ESAI : Saya (Tak) Tega

FLP Medan 2 20.50
Penulis : Sukma
Lebaran tahun ini, saya tidak akan berkunjung ke rumah emak. 

Saya tidak tau seperti apa kata-kata yang akan saya rangkai semisal lebaran tahun ini benar-benar tidak pulang. Tidak menjumpai emak. Apalagi mencium tangannya. Sungkem memohon maaf. 

Tahun ini memang tahun yang berat. Tidak hanya bagi saya. Tapi jutaan manusia di tanah air pun merasakan hal yang serupa; tak bisa mudik. 

Parahnya, rumah saya dan rumah emak tidak jauh. Masih satu kota. Berjarak kurang lebih 30-an km saja. Bila ditempuh dengan sepeda motor, paling memakan satu jam perjalanan. 

Justru karena tidak jauh, tidak pula harus menyebrang pulau, jika saya tak menemui emak lebaran tahun ini, apa kata orang-orang.  

“Yang parahlah kamu, lebaran pun tak pulang. Bukannya jauh kali rumahmu dengan rumah emak.”

Ini satu dari banyak cibiran yang akan saya terima bila saya tak pulang. Tak menyalami emak. 

Beberapa waktu lalu, sebenarnya pernah saya ucap ke emak semisal lebaran ini saya tak pulang. Tak mengunjungi sanak famili, karib kerabat dan handai tolan. Emak hanya senyum. Dia setuju.

Ucapan saya itu bercanda. Tidak serius. Hanya berandai-andai.

“Tak apa. Emak tak keberatan. Jangan dengar kata orang. Kau tak kan sanggup menjelaskan perihal sederhana ke banyak orang.” Itu ucap emak. 

Hati kecil saya tak tega mendengar ucapan emak demikian. Tapi apa mau dikata. Meski sebenarnya saya pun mulai menimang-nimang rasa sekiranya kalau tak pulang; apakah saya benar-benar sanggup?

Jauh sebelum ramadan tiba, saya menderita flu berkepanjangan. Tidak terlampau berat. Namun semakin hari, flu ini membuat saya jengah. Sulit membuang dahak. Bersin berkali-kali. 

Akhirnya, saya jadi undur diri solat berjamaah di mesjid. Semua ibadah saya lakukan di rumah bersama anak dan istri. Termasuk tarawih.

Begitupun dengan istri yang memutuskan tidak lagi berbelanja sayur-mayur di pajak atau warung sebelah rumah. Anak-anak bermain di dalam rumah saja. Tidak sekolah. Juga tidak berkunjung ke sana-kemari. 

Tamu yang datang dibatasi. Anak-anak tetangga yang hendak bermain ke rumah, sementara waktu ditunda. 

Kabar merebaknya pandemi jadi alasan untuk seisi rumah mengunci diri. Di rumah saja. 

Paling, sesekali jalan kaki keliling perumahan sekadar menghirup udara segar atau meraup sinar matahari pagi dengan tetap memakai masker sebagai pelindung diri. Itu juga sekali dua kali. 

Terselip rasa bosan. Tentu saja. Emak meminta saya dan anak/istri untuk datang menjenguknya. Saya berat mengabulkan pinta emak. Tapi dia memohon. Agar sesekali berbuka puasa bersama dengannya. 
“Sunyi emak rasa rumah sebesar ini jika hanya emak dan adikmu saja. Sahur dan berbuka, kami tinggal berdua. Tidak ada siapa-siapa.” Kata emak memelas. 

Memang, sejak 3 tahun silam, bapak berpulang. Rumah sering mengandung sepi. Saya, istri dan anak-anak sempat beberapa waktu tinggal di rumah induk. Menemani emak pasca kepergian bapak. 

Selanjutnya, saya terpaksa harus pindah rumah. Memboyong anak dan istri untuk tinggal di tempat lain. 

Itu pula yang membikin hati emak semakin sunyi. Ia merayu saya untuk sahur dan berbuka  barang sehari atau dua hari saja. 

Pinta itu tidak saya anggap macam-macam. Apalagi emak memang tidak suka keluyuran rumah. Tetamu pun jarang bertandang. Jadi, saya pikir aman. Covid-19 agaknya mustahil hinggap di rumah. 

Saya ajak anak dan istri menginap di rumah emak. Sahur dan berbuka puasa bersama. Riang saya lihat hati emak. Lahap makannya. Menjalani puasa terasa lebih enteng. 

Tapi yang bikin saya agak panik. Emak malah mengundang keluarga lain untuk datang ke rumah. Merayakan buka puasa bersama secara beramai-ramai. 

Aduh! 

Di tengah wabah begini, bukankah berkumpul-kumpul sesuatu yang dilarang? Pun sesuatu yang berbahaya. Kata saya kepada emak.

Saya tak kuatir dengan diri saya yang sebenarnya dalam kondisi tidak fit lantaran sedang menabung flu. Tapi lebih kepada emak. 

Pasien yang terpapar Corona dan akhirnya meninggal justru mereka yang sudah berusia uzur. Ada pula penyakit pendampingnya. 

Saya cemas bukan main. 

Herannya, saya ditahan selama berhari-hari tinggal di rumah emak. Sahur dan berbuka juga beramai-ramai dengan sanak famili yang lain. 

Saya tidak bisa menolak. Karena saya lihat emak sumringah bukan main saat berkumpul bersama para cucu dan anak-anak. 

“Kalau hati emak riang. Biasanya, imun tubuh akan kuat, Bang. Percayalah, Corona tidak akan sanggup melukai emak,” kata istri saya. 

Tapi kepanikan di hati dan benak saya kian menjadi-jadi. Saya berpikir bahwa ini sudah tidak tepat. 

Untuk sesuatu yang wajib saja seperti solat berjamaah sudah saya batalkan di mesjid. Memilih solat di rumah. Tentunya agar aman dari paparan Corona. Tapi sahur dan berbuka bersama bukan suatu keharusan malah kian jadi ritual. 

Saya memutuskan pamit. Lekas saya pulang. Saya tak mau berlama-lama berkumpul seperti demikian. 

Pun saya perhatikan, flu saya kian berat. Obat-obat yang saya beli dari apotik sudah hampir habis. Tapi rasa-rasanya, flu ini tak juga reda. 

Saya meminta izin pada emak untuk pulang. Alasannya, saya mau istirahat agar flu yang saya rasa lekas hilang. 

Emak setuju. Meski ada gurat sedih di wajahnya. Ia bakal berteman sepi kembali pasca kepulangan saya dan anak-anak. 

Benar saja. Beberapa hari saya di rumah. Flu saya terasa kian berat. Beberapa kali seperti ada batuh berdahak. Tidak nyaman saya rasa. 

Istri melarang untuk berobat ke dokter. Tapi saya ingin sekali konsultasi kepada dokter tentang flu yang saya rasa. 

Tidak ada cara lain. Saya ambil ponsel. Saya unduh aplikasi konsultasi dokter online dan saya ceritakan keluhan flu ini kepada dokter yang saya pilih. 

Saya diberi beberapa saran untuk terus meningkatkan imun tubuh. Rutin berolahraga meski hanya jalan kaki 30 menit. Cukup tidur dan perbanyak makan buah dan sayur. 
Setelahnya, dokter meresepkan beberapa obat untuk saya. 

Saya agak lega. Setidaknya, saya tau harus berbuat apa. Pun saya jadi punya alasan kepada emak tentang ketidakhadiran saya kelak saat lebaran. 

Begitu juga untuk adik, abang, sepupu, uwak, tante, bibi, paman dan lainnya bahwa saya tidak menemui mereka tatkala lebaran nanti bukan karena apa-apa. 

Jujur, sebenarnya saya tak ingin lebaran ini ke rumah sanak famili untuk berlebaran layaknya hari raya seperti tahun lalu. 

Tentu saja saya sangat rindu akan hal itu. Bisa bercengkarama dengan keluarga, makan ketupat, rendang daging, sambal tauco, kue lebaran dan mencicipi sirup yang manis. 

Saya rindu hal itu. 

Tapi tidak dengan lebaran kali ini. Sanak famili sepertinya tak paham atau mungkin lelah bila saat ini harus di rumah saja mengikuti himbauan pemerintah.

Parahnya, pada keadaan yang lain, sebagian dari mereka pun tak percaya bahwa sebenarnya Covid-19 ini ada. Mereka menduga bahwa ini hanya akal-akalan semata. Sekadar menakut-nakuti. 

Sulit bagi saya dan istri menjelaskan bahwa Corona ini memiliki dampak buruk bila kita tidak waspada. Setiap kita berpotensi terpapar dan menyebarkan ke orang lain. 

Padahal, tak sedikit, media cetak dan elektronik menyiarkan beragam kasus kengerian akibat Covid-19 ini. Pun korban tewas juga terbilang banyak.

Namun, tetap saja sanak famili abai dengan hal tersebut. 

Saya bingung harus berkata apa bahwa saya sungguh-sungguh tetap ingin berkunjung dan saling bertukar salam. Tapi kali ini benar-benar tidak bisa.  Lebaran tahun ini , saya hanya mau berdiam diri saja di rumah bersama anak dan istri. 

Lagi-lagi, cibiran terhadap saya terus datang menghantui. 

Saya tak tega. 

“Abang didiagnosa ODP oleh dokter, Dek. Dokter menyarankan agar abang mengisolasi diri selama 14 hari. Di rumah saja,” jelas saya kepada istri. 

Istri saya diam. Ia bingung. Tapi kabar ini harus diterimanya. 
“Kalau abang sayang kepada emak dan keluarga. Abang harus tega mengatakan hasil diagnosa ini kepada mereka,” saran istri saya pula. 

Saya menarik napas dalam-dalam. Sambil berkata dalam hati, “Ya, malam lebaran tahun ini saya harus tega menyampaikannya.”


Medan, 22 Mei 2020

Sukma, Founder gerhanapublishing, Editor 40 Buku, Pemegang Sertifikat Profesi Editor dari BNSP, Penulis Buku Hyposis for Love, Rumah Ibu dan Pesta Kembang Api. 

Related Posts

karya 8163049412198600604

2 comments

Masya Allah. Dilematis. Tapi harus dikuatkan. Sungguh menginspirasi...

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts