CERPEN : TOBI DAN TUHAN

FLP Medan Reply 18.38
            Oleh: Sawaluddin Sembiring

Ini hari kedua Tobi menikmati senja di taman kota. Belakangan lelaki ceking itu sering mendatangi taman kota, melepas cemas dan kekhawatiran. Senja seperti kawan baru untuk lelaki itu. Pelan-pelan dia membuka hati untuk mecintai senja, membiarkan dirinya larut dalam pelukan imaji. Ini semua harus diakuinya, walau sebelumnya senja adalah hal paling membosankan. Kini, tak ada lagi tempat untuk dirinya bercerita perihal ini dan itu. Ibu meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan rumah, pasca gempa berkekuatan 7,4 SR. Sedang ayah hilang terseret air laut yang naik ke daratan. Tsunami.

 Pecah sudah duka itu. Habis sudah, yang ada ketakutan mendalam di dirinya. Tak ada lagi tempat untuk lelaki itu pulang ke rumah, yang ada hanya tenda-tenda pengungsian tempat para warga berteduh dan berlindung. Wajah-wajah mereka menyimpan kejadian yang sangat membuat hati menjadi lirih. 

Wajah-wajah yang tersenyum seadanya untuk meringankan kedukaan yang melanda. Wajah anak-anak yang harus menahan diri untuk tidak menikmati segar dan lezatnya es krim. Tobi benar-benar nelangsa. Rindu nian ia pada orang-orang yang begitu disayangnya. Beruntung dia dapat selamat, tergantung di atas pohon kelapa. 

Di ujung jalan, suara tangis gadis kecil pecah. Menjerit iba. Di sebelah anak itu, terlihat seorang perempuan gemuk yang bersusah payah membujuk gadis kecil tadi, mendiaminya dengan segala rayuan. Namun tidak berhasil. Telunjuk mungil anak itu terus saja mengarah ke penjual es krim yang tidak jauh dari tempat Tobi duduk. 

 Penjualnya hanya melirik malas ke arah anak itu. Dipikirnya, anak itu pasti tidak ada duit. Bahkan di beberapa tempat pengungsian mereka dilarang masuk. Karena para pengungsi sedang tidak memiliki uang untuk membelikan anak mereka secontong es krim yang pada akhirnya akan membuat anak mereka menangis sepanjang hari. Awalnya gadis kecil itu menjual senyum di ujung jalan, merengek manja pada ibunya. Namun sang ibu mengabaikan, hingga jerit tangisnya mencuri perhatian orang-orang yang berlalu lalang di taman kota. 

Tobi bangkit dari duduknya. Dibelinya satu contong es krim itu. Kemudian di dekatinya anak kecil tadi. Gadis itu menyisahkan isakan, dia menatap Tobi dengan harapan. Sedang perempuan gemuk tadi hanya diam dan bingung. Tobi menghibur hatinya, diberinya es krim itu.

“Aku membeli es krim cokelat ini memang untukmu, dik. Ambillah dan jangan menangis lagi. Kasihan ibumu dan kita semua yang sedang mengecap duka,” kata Tobi dengan begitu dalam. Kalimatnya tabu, tak pantas untuk anak kecil. Gadis kecil itu hanya bisa tersenyum, diambilnya cepat contong es krim yang mulai meleleh dari tangan Tobi. Dia menikmatinya, kemudian pergi.

Kini, dia kembali sendiri. Terpaku dalam semua tanya yang mulai terikat mati dipikirannya. Ada memoar luka di relung hati yang terdalam. Setidaknya, perihal es krim tadi sedikit membuat hatinya lebih senang, ia mencipta bahagia di wajah gadis kecil itu. Paling tidak duka yang sedang melanda lekang sementara waktu dari ingatan gadis kecil tadi. Sedetik kemudian, Tobi teringat pada kedai es krim di kota sebelah. Sebuah kedai es krim yang sering didatanginya bersama ayah dan ibu setiap hari libur. Es krim yang sungguh lezat, varian rasanya membuat Tobi kecil rakus. Awalnya ia tak pernah mau ikut dengan kedua orangtuanya yang akan melakukan perjalanan ke luar kota. Namun pada suatu perjalanan yang lain, ayah berhasil membujuk Tobi, mengatakan jika ada kedai es krim yang begitu lezat di kota yang akan mereka datangi. Tobi kecil menjadi kepikiran, dia begitu mendambakan es krim yang dikatakan lezat oleh ayahnya. Namun semua memorabilia itu harus punah. Menyisahkan rindu yang alpa. Tapi apa hendak dikata, ia hanya bisa menatap senja dengan keruh, senja dengan sejuta basa-basi perihal kenangan.

***

Di dalam tenda pengungsian, Tobi hampir melewati Magrib dengan ceracauan. Dirinya sedang marah. Marah pada alam, marah pada manusia, marah pada Tuhan. Banyak kalimat protes yang segera ingin dilantangkannya pada Tuhan. Tentang rindu buta, tentang kehilangan, juga tentang kematian. Memang, Tobi bukanlah tipe manusia yang gemar beribadah, bahkan shalatnya sudah bisa dikata bukan bolong-bolong lagi. Namun hampir tidak pernah. Hari-hari dihabiskanya dengan bermain game, berchating dalam aplikasi yang selalu dirahasiakannya. Semanjak bencana ini melanda, tak jarang dari tenda-tenda pengungsi sepi dari orang-orang yang beribadah pada Tuhannya. Mereka memohon ampun, menangis, meratapi cobaan yang terasa sangat pedih. Lain dengan Tobi, dirinya sedang protes dan mengingkari segala hal yang berbau ke Tuhanan.

Gempa susulan baru saja terulang kembali, ini sudah kesekian kali. Orang-orang di dalam tenda berhamburan keluar, berteriak Allahuakbar, Lahaula walaquata Ilabillah, bahkan ada juga dari mereka yang mengumandangkan azan. Tobi tidak. Dia berbaring dalam tenda, menikmati ayunan bumi dengan keangkuhan.

“Tuhan, aku sedang marah padamu,” katanya dalam hati.

Kedua matanya terpejam, gempa susulan juga sudah tidak ada. Rasa penat dalam melahirkan kemarahan, meninggalkan segala kedukaan dunia sementara. 

Tobi terbangun. Azan subuh berkumandang dengan teduh. Dilihatnya kesekeliling. tidak ada orang. Mungkin mereka sudah bergegas ke mushola yang ada di ujung jalan. Mushola itu tidak rusak parah, masih bisa dipergunakan. Ada yang menarik hati Tobi, rasanya ingin sekali dia bersujud, menitihkan airmata dalam ampuanan tobat yang sesungguhnya. Lirih hatinya mengingat segala dosa, tentang dirinya yang nista. Berzinah adalah urusan pokok yang selalu dikerjakan. Tobi sedang direjam dosanya, dia menangis sesegukan.

Segera dia bangkit dari tidurnya, dicarinya sarung yang dibagikan para relawan dua hari lalu. Dia ingin segera pergi ke mushola. Shalat berjamah di sana. Dengan cepat, lelaki itu menyeret langkahnya, ingin segera sampai. Azan subuh masih terdengar berkumadang. Tobi tidak mau terlambat, dia tidak ingin shalat sendiri. Langkahnya semakin cepat, bahkan dipercepat. Namun Tobi tak kunjung juga sampai di mushola. Padahal jarak mushola dengan tenda pengusian tidak terlalu jauh. Kakinya mulai pegal, napasnya mulai tak beratur. Begitu lelahnya Tobi, hingga basah sudah tubuhnya akan keringat. 

Azan subuh sudah tak terdengar lagi. Shalat berjamaah pasti sudah berlangsung. Tobi kembali berjalan, walau tadi sempat berhenti sejenak, karena merasa perjalanan ke mushola itu begitu panjang. Tobi tidak juga sampai ke mushola. Hatinya kesal, rasa putus asa datang. Dia marah, menyalahkan Tuhan (kembali).

“Jangan permainkan aku, Tuhan.”

Air wajahnya keruh. Kepalanya terasa pusing. Seseorang datang dari arah belakang. Tobi tidak jelas melihatnya, namun dia mencium baunya. Seperti bau bunga kesturi. Seseorang itu memegang pundaknya, mendekatkan mulutnya tepat di telinga. Lelaki itu hanya diam, kaku, bahkan tak mampu mendengar suara detak jantungnya. Yang terdengar hanya bisikan seseorang itu.

“Katakanlah, Tiada Tuhan Selain Allah,” pinta seseorang tadi.

 Bibirnya bergetar, tapi tak ada suara. 

“Dan Muhammad adalah utusan Allah,” pintanya lagi.

Tobi belum bisa mengatakannya.

“Maka, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?”

Tobi menangis. Dosanya datang kembali, dia teringat begitu hinanya dia dari seorang pelacur. Betapa nistanya dia dari seorang penista. Dan betapa rendahnya dia dari seorang perempuan asusila. Karena memilih  menjadi mucikari. Entah sudah berapa banyak perempuan belia yang dijualnya. Secara paksa atau pun sukarela.

“Katakanlah, Aku bersaksi, Tiada Tuhan Selain Allah,” bisiknya lagi.

Bibir Tobi mulai mengucapkannya. Lirih.

“Dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Selesai Tobi mengatakannya. Tubuhnya ambruk, dia tak sadarkan diri. Betapa mengigilnya hati ketika Tuhan membelai dirinya dengan kebesaranNYA. Kini yang tertinggal hanya duka dan tanda tanya. Sedang IA tetap ESA dengan segala firmannya.


*) Karya Sawaluddin Sembiring
*) Dimuat di Surat Kabar Harian Analisa Medan, edisi 29 Maret 2020

Related Posts

karya 8620993688052106028

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts