Opini: "New Normal" yang Mungkin Belum Bisa Normal

FLP Medan 1 18.48
Ilustrasi

Sebagian masyarakat Indonesia merasa bahagia begitu mengetahui adanya usaha pemerintah yang menerapkan "new normal" sebagai langkah selanjutnya untuk mengatasai berbagai efek yang diakibatkan oleh pandemi Covid 19. Pusat perbelanjaan, bandara, terminal, stasiun serta semua instansi akan dibuka secara bertahap untuk kembali menumbuhkan tunas ekonomi, katanya.

Tapi, tentu saja sebagian masyarakat masih khawatir, masih takut dan cemas jika "new normal" mulai dijalankan 1 Juni 2020 ini. Padahal, kurva pasien yang terdeteksi Covid-19 sampai saat ini cenderung meningkat. Yang paling dikhawatirkan adalah, ledakan pasien jika "new normal" ini tidak terkontrol dengan baik. Bagaimana jika ketika terjadi ledakan, sedangkan fasilitas kesehatan serta sumber daya manusianya tidak memadai? Dan bagaimana jika keuangan negara juga tidak stabil? Bisa jadi akan terjadi masalah baru lagi buat negara kita, bukan?

Terlebih lagi jika sekolah dibuka, anak-anak SD yang dengan polosnya bermain seperti biasa dengan teman-temannya. Meskipun berulangkali diingatkan, “Ayo pakai masker!”, “Ayo cuci tangan dengan sabun!”, “Jangan dekat-dekat sama kawannya!” mereka tetaplah anak-anak. Tak mungkin seorang guru bisa mengawasi kurang lebih 30 orang siswanya. Apalagi jika jam istirahat tiba, tentu saja guru akan kewalahan menghadapi siswa-siswanya.

Sebagai seorang pendidik yang bekerja di instansi pendidikan serta sebagai seorang Farmasi yang memiliki profesi di bidang kesehatan, ada keraguan dihati saya mengenai "new normal" ini. Mengapa begitu cepat, dan tidak menunggu setelah angka pasien terjangkit Covid-19 ini mengalami penurunan? Sebagian daerah yang tidak dilakukan PSBB tentu saja masyarakatnya dengan leluasa melenggangkan kaki kesana kemari. Bagaimana cara mengkontrol untuk itu, kemungkinan penyebaran virus Covid-19 semakin berkembang.

Dengan "new normal" ini kita merasa dipaksa untuk berdamai dengan keadaan. Meskipun himbauan untuk tetap menjaga kebersihan tetap dijalankan, berapa orang yang akan patuh dan yang akan mengerti resikonya jika ia terpapar dan  menularkan ke orang lain?

Dalam hal aturan untuk memakai helm jika berkendara saja dilanggar, serta peraturan untuk tidak boleh menerobos lampu merah pun dilanggar juga, padahal bukti nyata terenggutnya nyawa dengan aturan itu sudah banyak. Apalagi kalau hanya sebatas masker, kain kecil penutup hidung dan mulut. 
Tingkat kejujuran, kecerdasan, kebersihan, kesadaran dan kemasabodohan masyarakat Indonesia itu begitu beragam. Ini yang perlu digaris bawahi. Bahkan ada masyarakat beranggapan bahwa Covid 19 itu tidak ada. 

Akhirnya, saya cuma mengucapkan selamat datang dan selamat menikmati masa "new normal" meskipun mungkin belum bisa normal. Dimasa ini, mungkin kita akan banyak bersangka pada teman kerja kita yang tiba-tiba bersin atau batuk di sebelah kita. Kita akan terlalu khawatir tentang anak-anak orang tua dan keluarga kita. 

Berdoa dan berserah diri kepada Tuhan itu wajib, tapi ikhtiar juga harus maksimal. Jika kita ditakdirkan berada dalam situasi "new normal" seperti saat ini, maka sayangilah diri, keluarga kita. Tetap pakai masker, rajin cuci tangan, hindari kerumunan, jaga jarak, pastikan asupan gizi yang cukup untuk tubuh. Percayalah, akhir pandemi akan segera tiba, meski kita tidak tahu kapan waktunya.


Penulis: Dewi Pertiwi, perempuan 30 tahun berprofesi sebagai istri. Ibu dari seorang anak, dosen dan apoteker. Menggemari novel dan fiksi lainnya. Tapi lebih sering menulis jurnal ilmiah. Bisa ditemui di Instagram @pertiwidewi710 atau Facebook 'Dewi Pertiwi'.

Related Posts

opini 1639269410371427482

1 comments

Masih bingung menghadapi new normal ini. Sedangkan kondisi yang terpapar masih terus melonjak. Semoga Indonesia bisa seperti negara lain yang bisa selesai menghadapi pandemi ini.

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts