Profil Minggu: Abdi Siregar Menulis untuk Keluarga

FLP Medan 1 18.00
Abdi Siregar

Setiap orang punya motivasi sendiri untuk produktif sesuai passion. Tak terkecuali bagi seorang penulis. Dari sekian wawancara profil yang pernah saya lakukan, motivasi pria kelahiran Desember ini cukup menyentuh, ia menulis untuk keluarga.

                Ya, itulah yang dipaparkan Abdi Siregar, pria berkacamata kelahiran Siantar ini. Jika banyak orang menulis untuk berdakwah, bisa menebar manfaat, untuk memiliki nama, Abdi menulis hanya agar kelak anaknya bisa membaca buku yang ditulis oleh ayahnya. Ia benar-benar  berusaha menjadi sosok idola, sosok yang memotivasi dan teladan bagi anak-anaknya.

                Pria yang kini mengajar di Pondok Pesantren Al-Khoir, Padang Lawas ini telah berkarya dalam beberapa buku. Yaitu Novel Mengejar Impian Ayah, Novel Negeri para Bintang, Kumpulan Cerpen Masjid Dari Surga, Kumpulan Cerpen Yang Tak Kasat Mata dan dua buku antologi.  Kesibukannya mengajar dan membimbing anak-anak pondok, tak menyurutkan langkahnya untuk produktif menulis. Ayah dari Mumtaz dan Haura ini selalu mengambil tema tulisan tidak jauh dari kesehariannya. Seperti  novel "Mengejar Impian Ayah" - memang terinspirasi langsung dari sang ayah dan novel "Negeri Para Bintang" yang menggambarkan dari pengalamannya ketika menjadi santri. Ini membuat novelnya cukup mengaduk perasaan pembaca, sehingga pembaca hanyut dalam alur cerita. Terbukti dari jumlah penjualan kedua novelnya yang tembus angka seribu eksemplar. Angka yang cukup membanggakan.

                Dalam proses menulis, anak sulung dari pasangan Erni Wati dan Alm. Mara Sundutan Siregar ini, membaca beberapa novel yang menginspirasi, yaitu Tasaro GK dan Dee Lestari. Ia juga rajin membaca buku motivasi menulis dari Asma Nadia atau Helvy Tiana Rossa. Ini dilakukannya ketika stagnan dalam menulis, disamping juga mendengar murotal Quran sebagai ketenangan hati.

                Hal menarik yang saya tangkap dari suami Ronaliana Harahap ini adalah ia senang menonton film horor. Kesenangannya ini pun dituangkannya dalam kumpulan cerpen "Yang Tak Kasat Mata" . Banyak hal mistis yang dialaminya sendiri, lantas dituangkan  dalam bentuk buku. Genre buku barunya ini disambut hangat oleh penikmat buku.

                Kini ia tidak hanya ingin menulis sendiri, ia melibatkan murid-murid pondoknya untuk ikut menulis hingga membuat sebuah antologi. Ia pun sempat membuat komunitas di daerahnya tinggal, hingga akhirnya ia bisa membuka cabang komunitas menulis Forum Lingkar Pena (FLP) untuk daerah Padang Lawas. “Bagiku FLP sudah mengakar dalam diri. Jadi janji sama diri sendiri, dimana pun berada harus menggerakkan literasi,” jawab pria yang terkenal ramah saat ditanya perihal pembukaan FLP.

                Penulis yang menerbitkan bukunya secara indi ini, tetap optimis untuk terus berkarya lewat buku, meski kini banyak orang beralih pada media digital. “Masih banyak yang lebih suka baca buku. Yakin saja yang kita tulis untuk kebaikan. Buku itu punya takdir, pasti akan berjodoh dengan pembacanya,” yakin penyuka novel Ahmad Fuadi ini.


Related Posts

Tentang Kita 8439589112221840552

1 comments

Bukankah novel mengejar impian ayah mau ada lanjutannya ya?

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts