Cerpen: Hutang

FLP Medan Reply 19.22
Ilustrasi

Merantau. jauh dari keluarga. Hal itu tak terbayangkan olehku sebelumnya. Tapi yang tak terbayangkan itu yang kulakukan saat ini. Tinggal di sebuah rumah kecil pinjaman dari perusahaan tempat kubekerja. Tampak sederhana dan semakin sepi, tak lagi terdengar suara ibu yang menyuruh makan, suara ayah yang melantukan bacaan shalat. Hal ini tak kusesali, semuanya terbayar dengan keadaan mereka yang masih berkecukupan dengan hasilku. Walau tak seberapa dengan ruwetnya hidup sendiri di Ibu Kota.

***

            Berangkat dari kompetisi DAI Muda, perusahaan dakwah menerimaku untuk bergabung dengan umat muslim lainnya. Mengurusi kasus-kasus pencemaran agama Islam, demonstrasi dan masalah lainnya sudah menjadi pekerjaanku. Hasil yang diterima tak banyak, namun Alhamdulillah Allah telah mencukupi segalanya.


            Lebaran tinggal dua bulan lagi, aku harus jauh-jauh hari memesan tiket ke kampung halaman. Pekerjaan yang diselesaikan itu tak bisa tertinggal. Untungnya saja, Sarah memiliki kenalan. Katanya, jasa pembelian tiket.


              "Alhamdulillah... Syukron ya Sarah, sebentar lagi ana segera ke sana," aku menutup telfon, senja mulai menghilang.

             Pekerjaan usai, Sarah menelfonku. Ya, sore ini memang waktunya untuk menepati janji. Aku sudah berjanji kepadanya, untuk menghantarkan uang tiket.

           "Ratna, ini Rahmi temanku yang ingin memesan tiket ke Medan untuk satu Minggu sebelum lebaran," Sarah memperkenalkan gadis bernama Rani itu kepadaku.

           "Oh iya.. untuk ke Medan. Pulang baliknya dua juta mbak," Ratna menawarkan harga.

            Aku tersenyum saja, sambil memberikan uangnya tanpa curiga. Kami berbincang ringan, sampai akhirnya Ratna harus pamit untuk mengurus tiket.


            Dua minggu berlalu, suasana ramadhan mulai mendekat. Lebaran juga tak terasa akan datang lagi. Di meja kerja, ditemani tumpukan berbagai kasus yang harus ditangani. Mata yang lelah melihat deretan huruf, mendadak lirih saat memandang foto ibu dan ayah. Rasa rindu, tak bisa kutampikan, berpisah satu tahun membuatku rindu suasana rumah, rindu cerewet ibu dan rindu ajakan berjamaah bersama ayah.


            Aku tersenyum, rasa bahagia menyesak di dada. Sebentar lagi, ayah ibu anakmu ini sebentar lagi akan pulang. Sudah terbayang rasa pelukan ibu, kecupan ayah di sana.

  Kuraih ponsel yang tergeletak di samping foto mereka. Niat hati untuk menelfon kedua orang yang sangat kukasihi. Ingin mendengar suara merdu mereka saat menanyakan kabarku. Namun, panggilan masuk terlebih dahulu. Telfon dari Sarah, mungkin Sarah ingin menyampaikan masalah tiket, fikirku menduga.


"Assalamualaikum, Rahmi," Sarah memberi salam dengan nada suara yang serak.

"Waalaikumsalam.. Sarah apakabar?"

 "Rahmi.. Afwan ya maaf," nada menyesal terdengar dari telfonku.

 "Maaf untuk apa, Sar?"

             "Ratna menipu kita Mi, ia membawa kabur uang-uang tiket pesanan. Termasuk uang tiketmu, saat ini aku harus bertanggung jawab atas uang itu. Maaf ya Mi, secepatnya akan aku ganti dan akan aku cari Ratna," Sarah sedikit terisak.


            Tulang-tulang jemariku mulai melemah, binar mata yang berkaca-kaca karena rasa rindu berubah menjadi binar mata yang patah. Dua juta melayang begitu saja, hasil dua bulan menatap deretan huruf dan berkas penuh dengan kasus hilang begitu saja. Ingin rasanya, aku menangis dan menjerit. Tapi, tidak mungkin. Seisi kantor akan khawatir. Aku menarik nafas, menyebut nama Allah, mengadu padanya.


            "Ya sudah Sar, pelan-pelan saja kamu kembalikannya, assalamualaikum." Aku menutup telfon dari Sarah dengan mencoba tersenyum.

             Sekuat apapun aku, jiwa wanita tak bisa terelakan dalam diri yang lemah. Fisik yang tangguh tak akan tertutupi dengan hati yang rapuh. Air bening yang tak kuharapkan membasahi pipi, akhirnya mengalir. Semakin deras kurasa, saat memandang senyum ayah dan ibu di foto.


           Aku tenggelam dalam lamun, terbayang wajah lelah ayah dan ibu saat aku masih sekolah. Terbayang, ketika ada masalah aku selalu bercerita padanya, duduk di pangkuannya dan aku mulai mengeluh. Ibu selalu mengelus kepalaku dengan kelembutan tangannya, ia selalu menasehati untuk selalu mengadu kepada yang mencipta.

         Lamunanku tersudahi, telfon berdering. Kulihat nama ayah tertera di layar hp. Tangisku semakin menjadi, cukup lama kubiarkan telfon itu berdering. Aku berusaha menyeka air mata dan mencoba tersenyum.

            "Waalaikumsalam Ayah,"

            "Apakabar nak? Ini ibumu kangen samamu," suara ayah yang tegas namun lembut semakin membuatku terisak.

            "Rahmi, nak. ibu kangen nak.. lebaran ini, kamu pulangkan nak?" Suara ibu begitu sendu, terasa harapan besar dari suaranya.

              Harapan ibu membuat binar mata tak lagi berkaca-kaca, semua air mata yang sengaja kutahan agar tak membuat khawatir mereka akhirnya tumpah. Aku menangis terisak. Menahan rasa rindu dan juga kehilangan.


              "Rahmi ingin sekali kembali  Bu, yah.. tapi Allah berkata lain. Alhamdulillah, ibu.. Allah masih mau menguji Rahmi. Dua minggu yang lalu, Rahmi sudah memasan tiket untuk balik ke Medan. Uangnya sudah Rahmi bayar. Tapi.. ternyata Rahmi kena tipu, yang mengaku menjual tiket itu kabur membawa uang Rahmi." Aku terisak menjelaskan apa yang terjadi, bukannya ingin mengeluh tapi rasanya tak sanggup mendengar harapan ibu yang begitu menginginkan aku pulang.

        Terdengar suara Ibu juga terisak, ia merasakan kesedihan anaknya yang berjuang di Ibu Kota. Namun, hebatnya ibu. Ia tak memarahiku, tetapi memberikanku nasehat dan motivasi yang kuat. Ibu selalu berpesan apapun masalahku mengadulah kepada Allah, karena Allah yang memberi masalah maka Allah jugalah yang akan menyelesaikannya.


           Aku menutup telfon dengan tangan gemetar, masih tak percaya dengan ujian yang saat ini diterima. Yuni, teman kerja yang posisinya ada di sebelahku ikut menanyakan keadaan ku yang lemah saat ini. Ia mengaku memerhatikan dan mendengar pembicaraan dengan ibu tadi.

         Yuni ikut perihatin. Ia sangat baik, teman sebelahku itu menawarkanku untuk meminjam uangnya agar bisa balik ke kampung halaman. Walau aku tak tau uang dari mana yang harus kucari untuk bisa membeli kembali tiket ke Medan. Tapi, aku tak mau menerima tawaran Yuni. Bukan munafik, tapi itu yang diajarkan ibu.


          "Syukron ukh Yuni atas tawarannya. Afwan ana ndak bisa menerimanya, karena masih ada Allah tempat ana mengadu, ana belum berusaha meminta pada-Nya," tolakku secara halus. Yuni mengerti ia tetap menyemangati ku.

****

       Tidak terasa, sudah setengah ramadhan terlewati. Namun, uang untuk membeli tiket dan bekal mudik ke Medan belum juga ada. Tabungan yang kumiliki juga tak seberapa. Rasanya, aku tidak akan merasakan suasana lebaran bersama kedua orang tua. Harus menetap di Jakarta yang mulai lengang.

      Di sepertiga malam, aku merasa gelisah. Shalat dan berdoa kepada sang Pencipta. Aku nangis sejadi-jadinya. Memohon petunjuk kepada yang Maha Kuasa. Aku pasrahkan segalanya pada Allah.

           "Ya Allah.. engkau lah pencipta seisinya. Engkau lah yang maha mengetahui dan maha memberi. Kuserahkan rasa resah ini pada-Mu. Aku yakin, masalah ini engkau yang akan menanganinya." Air mata yang mengalir tak henti. Diri yang kotor terus mengemis, memohon dan meminta.

       Belakangan ini, memang aku tampak tidak bersemangat. Yuni, mencoba menawarkan lagi bantuannya. Aku tetap tak tergoda. Karena menerima bantuannya akan membuatku terjerat pada hutang.

           "Afwan ukh. Ana masih mengharap pertolongan Allah. Ana tidak ingin terlilit hutang," jawabku singkat.


        Tidak berapa lama, telfonku berdering. Panggilan masuk, namun tidak tertera namanya. Setelah memberi salam, ternyata aku sedang berbincang dengan kru stasiun televisi. Mereka menawarkanku pekerjaan. Tiga episode untuk shooting kajian ramadhan. Bayaran yang ditawarkan mereka delapan kali lipat dari uangku yang hilang. Rezeki yang tak kusangka, aku menerima tawaran itu. Hasilnya segera kupesankan tiket balik ke Medan.


       Keajaiban Allah tidak ada yang sangka, keyakinan kita padanya akan membawa berkah pada hidup kita. Tidak berapa lama, Sarah menghubungiku untuk mengembalikan uang yang di bawa kabur. Bonus tak diduga dari sang Khalik. Uang yang hilang kembali dengan utuh dan ditambahkan rezekiku olehnya.


       Maka apapun masalah, janganlah kita mengharapkan bantuan orang lain. Mengadulah kepada Allah. Niscaya ia akan membantumu. Terlebih masalah uang. Jangan sampai kita terlilit hutang.
         
Karena, "Orang yang mati syahid akan diampuni seluruh dosanya, kecuali hutang," (HR. Muslim).

 

Tentang Penulis Venny Eriska adalah Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Menulis merupakan wadahnya untuk berbagi ekspresi dan menyampaikan pesan kehidupan pada banyak orang. IG: @ItsVennyy

 

Related Posts

Fiksi 6483656588848171250

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts