Cerpen: Kumpulan Tangan Berdarah

FLP Medan Reply 18.00
Ilustrasi

“Berawalnya pandemi covid-19 dari Wuhan China dan merambah ke negara lain membuat krisis ekonomi bahkan beberapa sektor bisnis yang sangat memprihatinkan. Krisis ekonomi global yang melanda sebagian besar negara di dunia termasuk Indonesia, memperlihatkan bahwa keseimbangan dalam perekonomian suatu negara tidak bisa dengan hanya mengandalkan sektor swasta. Kontribusi sektor pemerintah juga sangat dihandalkan. Namun beberapa pabrik terus mendatangkan pekerja asing khususnya dari Cina”

Begitulah isi dari salah satu opini yang kubaca di koran lokal Kota Medan. Berangsur covid-19 membuat resah masyarakat dan pemerintah. Bahkan di Indonesia sendiri sudah mulai merambah. Batinku berkaca saat itu. Tentang satu kebijakan yang membuat semua semakin resah. Ibu memandangiku dari kejauhan kemudian mendekat.

“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu.

“Tak apa Bu, hanya risau saja dengan kebijakan pendatangan TKA.”

“Ya, sudah berbuat semampunya. Ikhtiar dan doa itu penting bukan.”

Malam masih saja kelam. Setelah pembicaraan itu, aku pergi menelusuri jalanan. Pada setiap persimpangan aku hanya menatap pada satu arah namun itu belum pasti dan masih membuat tanya. Ini adalah kesekian kalinya aku menyaksikan kesendirian bulan di atas kuburan. Ketika semua orang tertidur lelap dan hanya menarik satu selimut di atas ranjang. Kuperhatikan segumpal darah yang mulai keluar dari lorong-lorong tua mereka membawa plastik dengan botol aqua. Aku heran melihatnya sampai pada persimpangan jalan aku menatap dan secepat itu mereka berlari walau masih rawit namun lincah. Ini anak-anak atau astuti dengan kecepatan nitro. Larinya kencang tapi badannya kecil pikirku di saat itu.

Jalan ini adalah diberi nama para pahlawan, dalam pikiranku mungkin mudah menjadi terkenal dan untuk dikenal cukup menjadi seorang pahlawan akan menjadi abadi dalam jalanan. Ah ternyata tidak juga! Terlebih itu bukanlah tujuan hidup yang seutuhnya karena apabila nyawa sudah tiada kita tidak berarti apa-apa. Aku menelusuri sepanjang jalan setelah kemarin terjadi demo besar-besaran oleh aktivis mahasiswa dengan para petugas keamanan pabrik. Kabarnya pabrik tersebut mendatangkan puluhan tenaga kerja dari Cina. Tak ada upaya dari pihak pemerintah dalam menanggulangi masalah itu, semuanya sepertinya berlalu begitu saja. Dari kejauhan aku melihat beberapa orang penjaga yang berpakaian hitam sambil mondar-mandir menyisiri tempat pembakaran ban. Mereka terlihat sangat sibuk menjaga pabrik itu. Terlebih pekerja asing itu tinggal di perumahan dekat pabrik. Semuanya semakin mencekam. Apalagi covid-19 masih menjadi ancaman untuk semuanya.

Langkahku terhenti, aku diam sambil merenung ada apa dengan bangsaku yang kocar-kacir karena orang lain? Padahal kami adalah  pribumi di negeri kami. Tapi gedung-gedung pencakar langit adalah milik orang lain dan kami menjadi kacung di tempat kami berdiri. Mata ini pun terengah setelah seorang kakek tua menghampiriku dan merasa kaget dengan kehadirannya.

“Kenapa kamu Cu? Jangan terlalu memikirkannya, itu sudah teroganisir,” ucap seorang kakek tua sambil tertawa terbahak-bahak.

Kemudian kakek itu langsung pergi, mendengar hal itu aku langsung berpikir maksud dari kata-katanya. Tanpa basa-basi langsung kutinggalkan tempat demo itu karena takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kaki pun mulai melangkah meninggalkan kawasan itu. Setibanya dirumah aku terpaku sambil merenung tentang tangan-tangan merah yang mulai berdarah membajak rakyat. Malam itu aku terlelap dengan segala kebimbangan.

***

Matahari mulai merambah di kasurku, ibu pun membuka jendela

“Muchtar, bangun nggak kuliah rupanya?!”

“Iya Bu, ini mau bangun kok.”

Langsung aku bergegas membersihkan badan setelah semalaman tadi berkelana di medan aktivis para tangan merah itu. Sambil sarapan, tak sengaja pagi itu, terdengar berita di salah satu channel swasta, yang menginformasikan bahwa akan ada blokade jalan yang dilakukan mahasiswa sebab pabrik tekstil mendatangkan pekerja luar. Di tengah situasi yang genting.

Mendengar kabar itu, aku langsung berangkat ke kampus dan mengumpulkan para kawan-kawan dari beberapa ormawa di kampus untuk mengadakan konsolidasi aksi. Beberapa orang diantara kami telah berkumpu dengan pakaian masker seadanya, kuambil alih dan langsung mengorasikan pada kawan-kawan dari di BEM kampus yang hadir beserta aktivis lainnya.

“Rekan-rekan mahasiswa saat ini situasi karena covid-19 sangat genting. Tapi masih saja pabrik-pabrik itu mendatangkan warga Cina. Kita jelas mengetahui kalau Wuhan menjadi kota pertama yang diserang dan itu berada di Cina. Wilayah kita terancam dengan keaadaan seperti ini. Sudah saatnya kita bangkit. Bukankah seorang proklamator mengatakan “bahwa pemuda adalah ujung tombak dari sebuah negeri.”

Semua terdiam, dan kulihat mata mereka merah, salah satunya adalah Taupiq yang terus berkoak dari tengah kumpulan orang, ia membakar semangat mahasiswa supaya bisa bergerak. Dan hari itu adalah sejarah bagi kami dan kawan-kawan yang hadir mengembalikan hak kami di tanah kelahiran ini.

Di tengah orasi tiba-tiba seorang anggota parlemen menatap ke arahku, matanya tajam, mukanya kemerahan serta bibir yang legam. Kutatap ia penuh dengan tatapan yang begitu indah, serta senyuman yang ku beri pada raut wajah yang merah namun seram. Jika dilihat dari depan ia seperti singa yang kepanasan. Ia adalah Prof. Ambarita, seorang anggota dewan yang penuh dengan pikiran kotornya.

“Apa-apaan ini!! Kalian mau membuat onar lagi, sok aktivis! aktivis itu tak ada gunanya, kalian sampah!!”

Dengan nada kasar ia terus menekankan untuk tidak melanjutkan kegiatan itu. Beliau pun meninggalkan tempat tersebut. Namun aku terus berkobar membangkitkan semangat kawan-kawan untuk membela hak rakyat yang tersakiti. Satu bendera kami angkat, para kawan-kawan yang lain mengikuti dari belakang. Dengan arak-arakan sambil mengungkapkan aspirasi kami menuju pabrik yang tidak jauh dari daerah kampus. Di penghujung jalan sudah bersiap pihak keamanan dari pabrik, tapi yang kami heran saat itu kenapa bisa Satpol PP ada di sana di saat bersamaan. Mereka menghadang dengan seragam, salah seorang dari pihak mahasiswa lari dan berkoak, “BERIKAN HAK KAMI!”, hingga keringatnya bertumpahan dan matanya berlinang kesedihan dengan keadaan rakyat dan nasib para jelata.

Orang-orang berseragam itu kemudian berlari ke arah kami, dengan perisai dan gulungan kawat mereka menuju ke arah mahasiswa yang demo saat itu. Beberapa dari kami mulai lumpuh dan tumbang di tengah aksi yang mulai panas itu. Dari pihak mahasiswa juga tidak tahan dengan Pasukan Satpol-PP yang pro terhadap pabrik kimia itu. Aku berlari sambil membawa sang bendera yang sejak tadi sudah kami kibarkan. Menuju ke tengah-tengah kawan-kawan yang kini mulai putus asa karena aspirasi dari kami tidak diindahkan. Dan hari itu tepat jam 12.00 WIB adalah puncak dari aksi yang kami beri nama “Sebelum Zona Merah”. Kami berhasil menerobos masuk ke dalam pabrik, semuanya hilang kendali. Pihak kepolisian telah sampai di tempat itu. Tak bisa dipungkiri kalau ini adalah sebuah jalan menuju kebaikan.  Manaf, mahasiswa jurusan teknik sebagai usungan untuk berdiskusi dengan pihak pabrik dan Pemda setempat. Untuk menghindari kerusuhan yang lebih parah lagi.

Setelah dua jam lebih, dan perbincangan yang sangat panjang akhirnya pihak pabrik menerima saran dari Manaf untuk memulangkan para pekerja dan isolasi terlebih dulu. Mereka setuju untuk tidak melakukan aktivitas yang serupa lagi.

Namun naas, tak patut dipungkiri. Setelah kejadian itu perkataan mereka hanya fiksi. Kumpulan tangan berdarah masih saja meninggalkan bekas. Terutama kepada anak-anak di sekitar pabrik. Aku diam dan hanya bisu, saat kuasa meringan semuanya.

Tentang Penulis Mhd Ikhsan Ritonga lelaki kelahiran Roncitan, 30 Juli 1998. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan. Beberapa karyanya terbit di Analisa, Waspada, Apajake.id, Simalaba.net. Buku kumpulan puisi tunggalnya “Serumpun Puisi Setapak Jalan” (Guepedia, 2018), Senjaku di Sipirok (Al-Qalam Media, 2019).


Related Posts

Fiksi 4069178742999512655

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts