Cerpen: Malaikat Keluarga

FLP Medan Reply 18.00
Ilustrasi

Namanya Maya. Aku memanggilnya kak Maya. Selain usianya lebih tua dariku, dia adalah saudara seayah seibuku. Yah, dia kakak sulungku. Bagiku dia adalah malaikat, begitupun bagi orang tua dan adikku.

Enam tahun yang lalu adalah masa-masa tersulit bagi kami. Yah, kami sekeluarga. Ayahku, ibuku, kak Maya, dan adik laki-lakiku, Nanda. Ayah mengalami masa kritis di rumah sakit, semua tabungan terkuras untuk biaya pengobatan ayah. Tak hanya tabungan, tanah perkebunan sumber penghasilan keluarga kami pun berpindah tangan. Waktu itu kak Maya duduk di kelas 3 SMA, Nanda baru saja masuk SD, sedang aku baru duduk sebagai siswa baru di satu-satunya SMP yang ada di kampung kami.

“Ibu, Pak Herman akan mengalami kelumpuhan seumur hidup. Besok bapak sudah boleh dibawa pulang untuk mengurangi biaya pengobatan. Tapi, ada beberapa obat yang harus tetap dikonsumsi,” kata dokter Fatma pada Ibu.

Sejak itu kehidupan kami berubah 180 derajat. Ayah tidak bisa lagi bekerja, Ibu yang biasa menemani ayah ke kebun sudah tak ke kebun lagi, sebab kebun itu telah terjual. Waktu itu aku baru saja pulang sekolah ketika ku dengar kak Maya berkata, “Buk, izinkan Maya pergi ke Medan, yah? Maya punya teman yang ngajakin kerja.”

Setelah berulangkali kudengar kak Maya memohon pada Ibu, akhirnya setelah Ujian Nasional Ibu mengizinkan kak Maya ikut dengan temannya itu. Sebulan kemudan baru kak Maya pulang. Katanya dia mau ke sekolah jeput SKHUN biar kerjanya bisa lebih enak. Cuma dua hari kak Maya di rumah, dia kembali lagi ke Medan setelah memberikan amplop cokelat kecil ke Ibu. Katanya itu gaji pertamanya.

Bulan kedua kak Maya mulai mengirim uang. Itu terus berlanjut sampai aku menyelesaikan SMA-ku. Uang kiriman kak Maya nominalnya selalu bertambah setiap bulannya. Bahkan enam bulan kak Maya bekerja, sudah cukup untuk memodali warung kelontong yang dibuka ibu di teras rumah. Dan sekarang warung itu sudah menjadi grosir terbesar di kampung kami.

Begitulah kak Maya menjadi malaikat penolong di keluargaku. Sempat aku berpiki untuk ikut bekerja setelah tamat SMA, tapi kak Maya tak mengizinkan, katanya aku harus kuliah. Karena itu permintaan kak Maya, aku pun belajar lebih giat untuk bisa masuk ke universitas negeri. Walau akhirnya Tuhan berkehendak lain.

Kak Maya memilihkan sebuah kampus swasta terbaik di Medan, karena aku gagal di test ujian masuk PTN. Tak tanggung-tanggung, kak Maya memilihkan jurusan kedokteran untukku. Aku yakin itu membutuhkan biaya yang besar, tapi kata kak Maya aku harus melanjutkan cita-citanya menjadi dokter. Sekarang aku sudah kuliah di semester tiga. Aku tidak pernah tau berapa banyak uang yang dikeluarkan kak Maya untuk biaya kuliahku. Dia memilihkan kamar kos yang cukup mahal dengan fasilitas terbaik untukku, membelikanku sepeda motor baru untuk kugunakan ke kampus, dan mengisi buku tabungan dengan nominal yang sangat besar setiap bulannya.

Hari ini aku harus menerima kenyataan itu. Kenyataan pahit yang tidak pernah terfikir olehku sebelumnya. Aku menyesal, tapi keinginan untuk menjawab rasa penasaranku itu memaksaku untuk melakukan ini. Awalnya kukira laki-laki yang menjeput kak Maya di kosannya itu adalah pacarnya. Kak Maya tidak pernah mengijin aku datang ke kosnya, tapi sore itu aku sengaja mengikuti kak Maya yang datang menjenguknya. Walau sempat curiga sebab laki-laki itu tak bisa menyembunyikan raut tua di wajahnya.

Hari ketiga aku memata-matai kosan kak Maya, ku dapati tiga laki-laki berbeda yang menjeput kak Maya dengan mobil-mobil mewah. Kucari alasan terbaik untuk menjawab pertanyaan yang hadir dibenakku sendiri.

“Apa mungkin kak Maya … ?”

 “Iya, tarifnya sudah tau kan, Mas? Iyah. Nanti di transfer aja. Oke. Nanti Maya sms-kan alamatnya, ya,” kak Maya mengakhiri pembicarannya lewat smartphone miliknya.

“Telepon dari siapa kak?” tanyaku yang sedari tadi memperhatikan kak Maya.

“Ouh, Nita. Kamu ngagetin kakak aja. Itu tadi relasi kerja kakak,” jawabnya. Jawaban yang semakin menambah rasa penasaranku.

“Kak, kenapa kita enggak ngontrak rumah atau beli rumah aja? Kan enak kita bisa tinggal sama.” Ini adalah pertanyaan yang pertama kali kulontarkan padanya saat pertama kali ke kosan mewah ini.

“Nita, kakak pengennya kamu itu belajarnya lebih fokus. Kalau kamu tinggalnya sama kakak, nanti kamu bisa enggak fokus, soalnya kamu kan orangnya khawatiran, nanti kalo kakak pulangnya telat atau lagi ada job ke luar kota, gimana? kan lebih bagus kamu ngekos. Kakak dah cariin yang fasilitasnya lengkap biar kamu nyaman, cateringnya juga udah kakak coba, enak. Jadi kamu bisa fokus belajarnya. Ingat ya, kamu belajar bagus-bagus, karena kakak dah enggak mungkin lagi jadi dokter,” tuturnya lembut.

Setahun yang lalu alasan itu bisa ku percaya. Tapi sekarang, apa sebenarnya pekerjaan kak Maya? itulah pertanyaan yang selalu mengganjal di pikiranku.

“Kamu kenapa sih nanya pekerjaan kakak terus? Kamu kuliah aja, nanti kalau udah selesai kamu kerjanya di rumah sakit, nolongin orang, enggak perlu kerja kayak kakak,” itu jawaban untuk kesekian kali kudengar setiap kali pertanyaan itu kulontarkan padanya. Jawaban yang cukup membungkam mulutku untuk tidak lagi bertanya.

Bagaimana mungkin pertanyaan itu tidak mengganjal fikiranku. Bila setiap bulannya saldo atm-ku bertambah minimal lima juta. Dan aku tidak pernah tau berapa duit lagi yang dikeluarkan kak Maya untuk biaya kos, uang makan, ditambah Ibu yang setiap dua hari sekali datang untuk mengambil baju-baju kotorku dan mengembalikannya dalam keadaan bersih, rapi dan wangi.

Terlebih saat ibu menelpon, katanya kak Maya sudah membeli sebidang tanah perkebunan dengan harga ratusan juta rupiah. Perusahaan mana yang mau menggaji kak Maya dengan nominal besar sedang ia hanya punya ijazah SMA.

“Adek ini siapanya Maya?” Tanya perempuan di depanku. Tadinya dia mengaku bernama Shinta.

“Saya adiknya kak,” jawabku bangga.

“Ough, adiknya yang calon dokter itu, ya?” tanyanya sinis. Aku hanya mengangguk, kemudian lanjut bertanya.

“Kakak tau dimana kantor tempat kerjanya kak Maya?”

“Kantor? jadi kamu enggak tau Maya kerjanya apa?” balasnya dengan pertanyaan yang diselingi tawa. “Maya itu udah kelas atas, tarifnya mahal, perjamnya jutaan rupiah.”

“Maksud kakak ?”

“Iya. Sebenarnya dia udah lama pingin berhenti. Tapi ia ingin melihat kamu jadi dokter. Masih banyak mulut orang-orang di kampung yang perlu dibungkam, masih banyak dendam akibat kesulitan ekonomi yang perlu dibalaskan katanya.”

“Happy birthday my sister,” sapa kak Maya. Aku baru saja membuka mata.

“Enggak usah terkejut gitu. Kakak kan punya duplikat kunci kamar kamu. Ayo panjatkan doa sebelum tiup lilinnya,” kata kak Maya.

“Terima kasih surprisenya kak. Nita juga punya surprise untuk kakak,” ucapku dengan nada getir.

“Oya? ulang tahun kakak kan masih dua bulan lagi sayang,” jawabnya riang.

“Nita mau pulangkan semua fasilitas yang kakak kasih. Nita mau hidup normal, mandiri dengan uang halal,” lanjutku. Kulihat raut muka kak Maya berubah.

“Kak, bagi Nita kakak seperti malaikat. Tapi sekarang Nita bukan anak kecil lagi. Nita sudah bisa melihat mana malaikat dan mana orang yang hanya menyebabkan aib,” ucapku lagi.

“Kamu bicara apa sih, Nita?”

“Nita malu, selama tujuh tahun sudah menganggap perempuan yang menjajakan tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut sebagai malaikat.”


Tentang Penulis Ana Nasir adalah nama pena dari Nurhasanah. Lahir sehari sebelum peringatan proklamasi RI ke-46, maka sangat terlambat menyadari bakatnya mengolah kata. Baginya, Menulis tak hanya tentang meluahkan yang menyesakkan pikiran dan dada. Tapi memungkinkan keinginan berada dalam banyak tempat dalam satu waktu. Jangan sungkan menyapanya di @ananasir4, ketikkan salam memalui DM, tapi jangan lupa untuk terlebih dahulu follow. Jangan takut, dia ramah tapi paling susah jika disuruh menabung.

 

Related Posts

Fiksi 3925642544327824818

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts