Puisi: Kumpulan Puisi Mhd Ikhsan Ritonga

FLP Medan Reply 19.17
Ilustrasi

SETELAH KEMARIN

kini hanya ada air mata di tanah ini

anak-anak tak sekolah menerima gaji

jatah rakyat menjadi tuli

jalanan menjadi ramai sebab pandemi

setalah kemarin, lalu kita pergi

demikian halnya dengan pertiwi

hidup sebatas pandangan

dipaksakan menjadi tenang

bianglala berlari

semesta menahan rindu

singgahsana busuk

setelah kemarin, lalu mereka pergi

 

PANDEMI RINDU

jarak bukan kematian,

ruang sela yang mengerang kesakitan

kamar disekat bersama daun kehidupan

perlahan ia gugur sebab kebosanan

pandemi rindu,

adalah vertikal waktu yang menjadi pilu

kalbu terasa sepi sebab cahaya tak bersinar

hanya ada raut wajah kumal

menanti tentang pertemuan

mengeja puisi menjadi doa

maaf, bukan merayu perihal asmara

pandemi rindu masih membelenggu

 

TANAH KENANGAN

bayu berhembus membawa kenangan

ibu berdiri di bawah terik

sambil membawa cangkul

mengucapkan kesukaran

tanah kenangan berbau kasturi

bergelut dengan pikiran masa lampau

mengeja cerita yang penuh imaji

bermain dengan area diksi


Tentang Penulis Mhd Ikhsan Ritonga menulis cerpen dan puisi di beberapa media cetak dan daring. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Setapak Jalan (guepedia, 2019).

Related Posts

Fiksi 8729041950380100142

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts