Cerpen: Menanti Kepulangan

FLP Medan Reply 18.00
Ilustrasi

Pohon kelapa memikat mata, bergoyang ke kiri dan kanan secara beriringan. Ombak saling mengejar hingga ke bibir pantai. Sore ini merupakan waktu yang tepat menghabiskan pergi ke pantai.Bibir pantai yang sangat mesra, orang-orang selalu betah menyaksikan senja pergi. Ada yang bermain bola voli, menghabiskan waktu dengan keluarga, mencari tempat hanya untuk sekedar mengabadikan peristiwa-peristiwa penting. Lain halnya dengan perempuan yang masih tegap berdiri di bagian paling ujung. Dengan wajah dan hati yang gundah. Bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra. Sampai senja pergi ia masih tetap tegap berdiri.

Perempuan itu menatap ke arah barat. Sepertinya ia melihat kepergian yang membawa harapan. Harapan yang berarti untuk perempuan seumuran dia. Mungkin tentang asmara, tapi bisa saja bukan. Matanya berlinang, tapi airmatanya tak jatuh. Hari sudah petang, matahari pun telah berwarna merah pertanda ia harus mengakhiri penantian hari itu. Bisa saja hari itu ia tetap menunggu, tapi hasrat ingin berteduh. Perempuan itu menyisiri bibir pantai sambil menatap ke belakang. Jejak kakinya juga mengikuti. Sesekali lisannya komat-komit perihal kepergian.

"Siapa yang salah? Semuanya jadi amburadul," ucapnya. Sambil mengusap kedua matanya.

Matahari perlahan-lahan terbenam dan sepanjang jalan pulang ia tetap melihat ke arah yang sama. Tak lama kemudian dia meninggalkan tempat itu, dia mempercepat langkah. Kemudian berlari seperti dikejar oleh seorang pria seperti di film-film India.

Beberapa saat kemudian perempuan itu sampai di rumah. Senyum tak kunjung hadir di wajahnya. Baunya juga amis. Dia mengetok pintu, penuh harap dibukakan oleh ibu tirinya.

"Bu, Roma pulang!" Teriaknya. Sambil mengetok pintu

Ibunya membuka pintu dengan penuh harapan puterinya membawa sesuatu yang bisa di makan.

"Sudah pulang aja Rom, tak biasanya kau pulang jam segini," ucap ibu. Datar.

"Kau bawa apa?" Tambah ibunya.

Dia diam. Dipandanginya wajah ibunya yang berubah drastis sejak peristiwa itu. Peristiwa yang membuat keluarganya amburadul seperi saat ini. Hampir tak ada senyuman di setiap harinya. Makian yang bertubi-tubi datang. Roma menyeka air mata. Berlari ke kamar. Dilihatnya foto ayahnya yang terpajang di dinding kamarnya.

“Ayah, adakah cinta yang lebih arif, jika ada harapku cepatlah kembali,” ucap Roma. Memeluk foto ayahnya.

“Masih kau pandangi foto ayahmu!” Bentak ibunya.

“Sejak kapan ibu disini,”

“Sejak kau tangisi foto jadul itu,” balas ibunya. Tertawa sumringah.

Kemudian ibunya pergi meninggalkan Roma di kamar. Roma kembali memeluk foto ayahnya. Air mata menetes. Kerinduan Roma sudah ada puncak kesabaran. Roma tak tahu apa ayahnya masih hidup atau hanya sekedar pergi untuk merantau. Namun batinnya bersikukuh kalau ayahnya masih hidup di belahan dunia yang luas. Peristiwa dua tahun lalu, memang sangat tragis. Ketika ayahnya pergi berlayar dan ombak besar menghampiri perahu sampai saat itu tak ada kabar pasti, ayahnya masih hidup atau sudah tiada.

"Maaf bu, Roma tak bawa apa-apa. Soalnya tidak ada yang menerima kerja di pasar tadi." Ucap Roma.

Ibunya menghela napas. Menatap wajah puterinya itu, seakan-akan ingin membunuhnya saja.

"Memanglah kau, tak ada otak, cari kerja yang lain. Pasti kamu seharian di pinggir pantai lagi kan? Masih menunggu kepulangan ayahmu? Berapa kali aku bilang Ayahmu telah melupakan kita. Tak kau lihat sudah lima tahun ditinggal disini saja." Suaranya menggelegar seperti petir.

Dia hanya diam. Menunduk. Ingin rasanya ia menjawab semua tanya dari ibu. Tapi dia takut malah akan membuat masalah semakin besar. Malam sudah tiba. Saatnya Roma membantu ibunya mencuci pakaian yang dititipkan oleh tetangga. Di rumah itu, jarang ada senyum dari ibu kepada anak, walau bukan ibu kandung Roma.

Roma melakukan pekerjaan itu dengan ikhlas. Walau airmata harus bersimbah. Tak jarang ia mengingat masa bahagia ketika ayah dan ibunya masih ada. Tapi Allah sudah mengatur jalan hidupnya. Ia ingin menjadi anak-anak seusianya yang menikmati masa sekolah dan masa-masa bermain. Tapi itu semua jauh dari pandang. Sebab tak ada bahu untuk bercerita.

Azan Magrib berkumandang. Roma menghentikan pekerjaan. Ia bergegas membersihkan badan dan melaksanakan salat. Sayup-sayup senja dan panggilan azan begitu mesra. Tak jarang bulu ari Roma merinding mendengar panggilan suci itu. Di bentangkannya sajadah. Seusai salat dua tangan menadah dan bercerita pada sang Kuasa. Masih ada Allah yang menemani hidupnya di kala bara api dimana-mana. Airmatany jatuh. Membasahi pipi. Ia bercerita lewat doa kepada TuhanNya. Malam itu menjadi teduh, keheningan malam membawa semuanya dalam peristirahatan.

Roma masih teringat kalau setiap minggu akan banyak kapal besar yang lewat dari pelabuhan Batang Natal.

"Ayah, kapan lagi aku melihat wajahmu dan mendekap tubuh itu," ucap Roma di dalam kamar.

Mentari bersinar, di bibir pantai yang begitu mesra Roma pergi ke sana lagi. Tanpa sepengetahuan ibunya. Perempuan dengan jilbab merah jambu di kepalanya yang membuat dia terlihat indah bergegas menuju pinggir pantai. Matahari pagi masih sangat bagus untuk dinikmati. Bertepatan dengan hari libur pantai Batang Natal penuh dengan orang-orang yang ingin berwisata. Roma memanfaatkan kesempatan itu untuk berjualan minuman es kelapa yang di ambilnya dari penjual di pondok dekat pantai. Ia menjajakan jualannya. Hingga sore hari tiba.

Perlahan orang-orang mulai sunyi, pantai itu ditinggal. Roma terisak melihat orang yang pulang dengan seorang Ayah. Ia duduk di batu besar. Di pandangnya ujung lautan. Di saksikannya matahari yang akan tenggelam. Sementara dari kejauhan bayangan ibunya terlihat oleh Roma. Berjalan dengan cepat menuju kearahnya.

"Disini lagi kau rupanya? Belum yakin, kalau ayahmu tak akan kembali." Ucap ibu. Matanya merah memandang Roma. Bayu bertiup dan melewati jilbab yang dipakai Roma. Tubuhnya gemetar.

"Bu, aku hanya rindu Ayah, barangkali saja dia lewat dari sini," balasnya.

"Tak yakin kau dengan surat ini." Ditunjukkan ibunya surat wasiat dari Ayah Roma yang sudah lama dia simpan.

Air mata Roma kembali jatuh. Tak menyangka ibunya akan setega itu. Surat yang menyatakan tentang kepergian Ayah Roma, dan meninggalkan Roma sebab mempunyai hutang kepada Ibu tirinya.

Senja menyaksikan tangisan Roma. Ibunya tertawa dan menatapnya tanpa iba. Suara kapal besar terdengar akan mendekati pelabuhan. Roma berlari. Begitu juga dengan ibunya. Seorang laki-laki dengan perawakan mirip dengan Ayah Roma turun dari kapal.

"Ayah, akhirnya pulang juga," ucap Roma mendekati laki-laki itu.

"Kau siapa? Aku bukan ayahmu," balasnya. Sambil merangkul anak dan istrinya.

"Roma, Ayok pulang!" Teriak Ibunya.

Roma menatap laki-laki yang dia sebut ayahnya. Ditinggalkannya pelabuhan dan senja yang akhirnya tak membawa harapannya. Tangisannya pecah hari itu.

Tentang Penulis Mhd Ikhsan Ritonga lahir dan besar di Roncitan Tapanuli Selatan, 30 Juli 1998. Beberapa karyanya pernah di muat di media cetak dan media elektronik. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Setapak Jalan (guepedia, 2019).

 

Related Posts

Fiksi 7649394420447514973

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts