Karya Pilihan: Tiga Pilar Kebahagiaan

FLP Medan Reply 18.00
Ilustrasi

Adakah hal yang lebih didamba dalam hidup ini selain kebahagiaan? Sungguh, dunia ini memang tempat persinggahan, bukan tempat keabadian. Tetapi bukan berarti kita pasrah pada kehidupan. Ada hal-hal yang selayaknya kita perjuangkan untuk diri kita sendiri, salah satunya adalah kebahagiaan. 
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” (Q.S. Al-Qasas: 77).
Demikianlah Allah menunjukkan segala kebaikan dan keadilannya kepada kita. Pada hakikatnya dunia merupakan tempat transit kita menuju kampung abadi yang bernama akhirat. Di sinilah kita mempersiapkan segala bekal yang diperlukan untuk bisa sampai pada akhirat dan hidup bahagia disana. Beribadah dan beramal sholeh adalah salah satu caranya. Tetapi Allah tidak hendak mengikat hambanya. Dia memberikan kesempatan pada kita untuk menyicipi lezatnya dunia. Dan bahagia adalah bagian dari kelezatan dunia itu sendiri. 

Tentu saja setiap manusia memiliki cara dan upaya tersendiri dalam mencapai kebahagiaannya, sebab ukuran kebahagiaan itu sendiri tidaklah sama. Ada orang yang menganggap bahwa uang adalah sumber kebahagiaannya, maka ia akan berusaha keras untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Ada juga yang menjadikan sumber kebahagiaannya adalah keharmonisan keluarga, maka ia akan berjuang keras untuk menciptakan suasana harmonis di tengah-tengah keluarganya. Tak sedikit pula orang yang menjadikan kekasihnya sebagai sumber kebahagiaannya, sehingga ia berjuang mati-matian untuk bisa hidup berdampingan dengan pujaan hatinya. 

Namun terlepas dari itu semua, hanya ada tiga hal yang bisa menjadikan kita benar-benar merasa bahagia baik di dunia maupun di akhirat, yakni: mensyukuri nikmat, sabar dalam ujian dan cobaan, dan tobat dari setiap dosa.

1. Mensyukuri Nikmat

Segala apa yang ada di langit dan di bumi ini merupakan nikmat Allah SWT yang tidak tertakar jumlahnya. Allah membagi nikmatnya pada setiap hambanya dengan adil. Segala nikmat itu Allah anugrahkan secara silih berganti dan berkesinambungan. Jangan pernah membanding-bandingkan segala hal yang kita miliki dengan orang lain. Sebab jika itu terjadi, maka kita tidak akan pernah menikmati nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Upaya yang yang seharusnya kita lakukan untuk menindaklanjuti nikmat itu adalah bersyukur. “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Q.S. Al-Baqarah: 152). Kesyukuran adalah sebuah rasa termia kasih yang direalisasikan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya sebagai wujud rasa kecintaan seorang hamba terhadap Rabb-nya.

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam bukunya Zikir Cahaya Kehidupan menyebutkan bahwa mengungkapkan rasa kesyukuran itu didirikan atas tiga asas yaitu, mengakui nikmat yang telah diberikan dalam batin, menceritakannya dalam zahir, dan menggunakannya sesuai dengan kehendak yang memberi nikmat. 

Di bulan Dzulhijjah ini, anjuran berkurban bagi yang mampu adalah salah satu upaya mensyukuri nikmat itu sendiri. 

“Sesungguhnya kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dna berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah orang yang terputus (dari nikmat Allah) 

Hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa bersyukur kepada Allah menjadi sebab ditambahkannya nikmat-nikmat Allah kepada kita. Oleh karena itu, bersyukurlah dengan segenap hati, lisan dan zahir.  Syukur dalam hati merupakan dorongan dalam jiwa untuk selalu kembali kepadanya. Sedangkan dengan lisan berarti berterima kasih dan memuji-Nya. Sementara syukur dengan zahir (anggota tubuh) adalah ketaatan dan pengabdian kepada-Nya. Apabila kita selalu berlapang dada menerima nikmat apapun dari Allah, kemudian kita berterima kasih kepadanya, maka kita akan merasa bahagia dengan apapun yang kita miliki, tanpa harus membanding-bandingkannya dengan nikmat yang diterima orang lain. Sebuah kalimat bijak menyatakan  “Jangan pernah menyepelekan apapun yang telah kamu miliki, karena mungkin yang kamu miliki itu sangat diinginkan oleh orang lain.”

2. Sabar Dalam Ujian dan Cobaan

Sepanjang hidup yang kita lewati tentu tidak terlepas dari berbagai ujian dan cobaan. Tujuannya jelas, yakni Allah ingin menakar kualitas penghambaan seorang hamba kepada-Nya. Tidak selamanya ujian dan cobaan itu berbentuk musibah dan penderitaan. Tetapi kekayaan, kedudukan bahkan kecantikan fisik pun merupakan bagian dari ujian yang Allah berikan. Sayangnya, kebanyakan dari manusia tidak menyadari akan hal ini, sehingga sering kali terlupakan syukur dan beribadah kepada Allah SWT. 

Andai kata ujian dan cobaan yang datang kepada kita berbentuk penderitaan, kesulitan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang dicintai, maka hal yang perlu kita lakukan adalah bersabar dan selalu berusaha untuk menghibur diri. Sabar adalah menahan diri dari sifat membenci takdir Allah, berputus asa, dan menahan lisan dari ungkapan keluh kesah, serta menahan anggota badan dari perbuatan maksiat. Dengan begitu kita tidak akan pernah merasa terbebani dalam hidup ini. “Jangan mengeluhkan masalah yang datang dalam hidupmu, terkadang kamu harus merasakan sakit untuk mensyukuri bahagia”. Demikianlah kalimat bijak yang mengingatkan kita bahwa jalan menuju bahagia itu tidak selalu mulus. Harus ada rintangan dan ujian yang dihadapi. Bila kita bersabar dan berprasangka baik pada Allah, maka kebahagiaan akan singgah dalam hidup kita. “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu” (Q.S. Al-Baqarah: 45).

3. Tobat Dari Setiap Dosa

Semua manusia pasti pernah melakukan dosa dalam skala yang berbeda. Dosa-dosa yang kita anggap kecil sering kali terlakukan tanpa sadar, seperti berbohong, mengolok-olokkan orang lain, dan sebagainya. Khilaf memang sifat manusia, hingga terkadang dosa besar pun dilakukan tanpa merasa bersalah di hadapan Allah.

Dosa adalah segala perbuatan yang membuat hati tidak tentram dan takut untuk diketahui orang lain. Perasaan inilah yang membuat hidup tidak tenang, hati tak nyaman dan selalu dilanda gelisah. Oleh karena itu, segeralah meminta maaf dan memohon kepada Allah jika sudah terlanjur melakukan dosa dan maksiat, lalu berjanjilah untuk tidak pernah melakukan kesalahan yang sama. Usahakan semaksimal mungkin untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dengan demikian segala gundah akan sirna dan hati akan terasa lapang, bahagia pun menjelang. 

Semoga kita menjadi orang yang apabila diberi nikmat lalu bersyukur, bila diberi cobaan dihadapi dengan sabar, dan bila melakukan dosa segera bertobat kepada-Nya. Sehingga kita merasakan kebahagiaan yang sempurna baik di dunia maupun akhirat. 

Tentang Penulis Dahlia Siregar, Anggota FLP Sumut angkatan IV. Saat ini telah mutasi ke FLP Wilayah Bengkulu. 

Related Posts

non fiksi 4177318551872212010

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts