Karya Pilihan: Waspada Takaran 'Gula' Berlebih Pada Pola Asuh Anak

FLP Medan 1 18.00

 

Ilustrasi

Semua orangtua di dunia ini pasti sangat menyayangi anaknya. Seberat dan sesulit apapun kondisi yang harus dihadapi, orangtua akan tetap berjuang demi anak. Tak satupun orangtua yang ingin kebutuhan anaknya tidak terpenuhi. Pun ketika sang anak mengalami kesulitan, atau pun saat tersakiti. Orangtua, terutama seorang ibu adalah sosok paling terdepan dalam pelayanan terbaik dan kasih sayang yang sempurna. Sejak awal janin mengisi rahimnya, ibu senantiasa menjaga dan melakukan banyak hal agar calon bayinya tumbuh di dalam kandungan. Dan setelah lahir, naluri seorang ibu bahkan rela tidak terpejam di saat kantuknya, hanya untuk menghindari gigitan nyamuk pada tubuh bayi mungilnya.

Tahukah kita bahwa perhatian dan kasih sayang yang orangtua berikan ke pada anak adalah hal yang akan terekam dalam benak mereka. Ibaratkan gula, iya kayak ada manis-manisnya. Namun kebanyakan dari kita para orangtua seringkali salah dalam menakar 'gula' yang pas seusai porsi yang seharusnya anak dapatkan.

Merujuk pada Pola Pengasuhan Ala Rasulullah dengan konsep 7-7-7 nya, sebaiknya orangtua tahu pentingnya takaran 'gula' yang tepat pada pola asuh anak. Pada konsep ini dijelaskan bahwa anak usia 0 - 7 tahun adalah masa pengasuhan secara dialogis dan fermisif. Yaitu dengan metode komunikasi 2 arah dan orangtua cenderung mulai mengenalkan kebiasaan-kebiasaan baik untuk membangun karakter dan kemandiriannya. Walau kadang akan ada penolakan dari sang anak sendiri. Hal ini penting, mengingat kelak mereka akan memasuki fase kedua yaitu pengasuhan usia 7-14 tahun. Pada fase ini anak adalah tawanan atau asisten orangtua. Dimana anak dituntut sudah mampu melakukan berbagai tugas rumah dengan kadar kesulitan yang berbeda dan semakin bertambah tingkat kesulitannya seiring bertambahnya usia dan kemampuannya.

Namun tak jarang kita jumpai, orangtua yang membiarkan anaknya dalam kondisi 'gula' berlebih dalam pengasuhannya. Beberapa disebabkan oleh faktor keluarga yang sudah lama menginginkan anak, atau sang nenek yang lama mengidamkan cucu. Atau faktor trauma masa lalu, takut kehilangan dan lain sebagainya.

Berbagai kondisi membuat orangtua takut anaknya mengalami situasi sulit, sehingga selalu hadir sebagai Tim SAR atau mungkin pelayan terbaik sepanjang hidupnya. Memakaikan kaos kaki dan sepatu anak setiap akan berangkat sekolah dengan alasan biar cepat. Menyiapkan buku dan peralatan sekolah anak dengan alasan agar tidak ada yang tertinggal. Menyuapkan anak makan dengan alasan biar cepat dan tidak berantakan. Mengerjakan PR sekolahnya dengan tujuan agar nilainya bagus. Bahkan hal terkecil tapi tak kalah penting seperti melepas dan memakai celana sendiri setelah buang air.

Bagaiman bisa kita memintanya untuk mencuci piring sendiri bila dirinya tidak merasa membuat piring kotor? Bagaimana mungkin kita untuk membersihkan kamarnya, bila yang selalu dia lihat adalah kamar yang selalu bersih dan rapi?

Psikolog anak Elly Risman M. Psi menyebutkan dalam sebuah kutipannya bahwa "Suatu saat kita akan meninggalkan mereka, maka jangan mainkan semua peran.

Jangan mainkan semua peran. Jangan memaksakan diri untuk selalu ada dalam kondisi apapun. Anak kita perlu menikmati sulitnya memasukkan kaos kaki, atau menaikkan celana usai buang air. Anak kita perlu tahu proses menulis hingga menjadi rapi atau menjawab pertanyaan hingga benar semua.

Kemandirian yang kita ajarkan sejak dini, mulai dari hal-hal sederhana seperti bisa makan sendiri atau membiarkannya menyelesaikan puzzle. Kita tidak perlu menawarkan bantuan sampai masanya sang anak menyerah atau kita lihat mulai kelelahan. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuannya menghadapi masalah, menangani stres, mencari solusi dari masalahnya. Skill ini disebut AQ atau Adversity Quotions.

Hal ini sangat penting, mengingat bahwa kita sebagai orangtua tidak selamanya ada untuk mereka. Suatu saat kita akan meninggalkan mereka. Maka jangan sampai kita meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah. Lemah dalam kemampuan menghadapi masalah, dan lemah dalam hal kemandirian, memecahkan masalah.

Ataupun mereka akan meninggalkan kita untuk kehidupan mereka di masa depan. Jika kita segera bergegas menyelamatkannya dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu. Sakit sedikit, mengeluh. Berantem sedikit, minta cerai. Masalah sedikit, jadi gila.

Jadi, izinkanlah anak kita melewati kesulitan hidup. Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit menangis, sedikit kecewa, sedikit telat, dan sedikit kehujanan. Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan. Ajari mereka menangani frustrasi. Kurangi asupan 'gula' dengan selalu menjadi ibu peri atau guardian angel bagi mereka. Apa yang terjadi jika kita tidak bernafas lagi esok hari? Bisa - bisa anak kita juga akan ikut mati, disebabkan obesitas dan diabetes dari hasil pola asuh kita selama ini.


Tentang Penulis

Suchi Mawarni, ibu muda dari 3 orang anak. Juga disibukkan dengan rutinitasnya sebagai Guru TK islam terpadu Insan Azkia Medan. Karya fiksinya ada di beberapa grup menulis. Dan pernah bergabung dengan beberapa antologi cerpen dan puisi. Ia adalah salah satu anggota FLP Sumut. Dan ini adalah karya non fiksinya yang pertama sebagai wujud kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan anak. 


Related Posts

non-fiksi 5852217683212547839

1 comments

masya allah terima kasih sudah diingatkan bunda

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts