PROFIL MINGGU INI : Ira Madan, Penulis Medan yang Menembus Layar Lebar Nasional

FLP Medan Reply 18.00
Seperti mimpi mungkin saat buku yang kita tulis diangkat menjadi sebuah film. Sama seperti Laskar Pelangi, 5 menara, 5 cm dan film layar lebar lainnya yang diangkat dari novel. Nah edisi kali ini, kita angkat dari seorang penulis yang karyanya juga divisualisasikan lewat layar lebar.
Pernah dengar film Cahaya Cinta Pesantren? Film ini  diangkat dari sebuah novel besutan anak Medan. Ialah Ira Madanisa atau yang dikenal dengan Ira Madan. Ibu muda kelahiran 27 Mei ini merasa sangat senang saat sutradara memilih ceritanya ketimbang novel-novel lainnya. Saat ditanya kenapa bisa novelnya yang dipilih, ibu dari Zafran hanya menjawab renyah, “Sutradara memang hobinya jalan ke toko buku buat hunting novel kece  untuk dipinang jadi film. Nah disinilah pesona CCP (Cahaya cinta pesantren) begitu menarik sutradara. Hingga akhirnya mau tidak mau pihak film mencari saya.”
Tentu rasanya wah sekali ya. Setelah film ini dirilis, banyak yang penasaran dengan sosok Ira Madan, khususnya para Santri dari segala penjuru negeri. Ia juga sering diundang ke berbagai pelatihan menulis di luar kota. Banyak sekali berkah dari novel ini. 
Proses pembuatannya novel ini juga tidak lama, hanya sekitar 3 - 4 bulan saja, selanjutnya proses revisi, ini yang memakan waktu lama. Sedikit mengingatkan, CCP mengkisahkan tentang kehidupan santri, lika-liku dan dilema yang mereka hadapi di pondok. Tentunya ini sesuai dengan keseharian  istri dari Wily Redo yang memang mengajar di sebuah pondok pesantren ternama di Medan.
Selain novel CCP, sulung dari 4 bersaudara ini juga menulis  novel HanahnuDza dan kumpulan cerpen Ustadzah berkisah yang diterbitkan secara indie. Wanita penggemar Tereliye dan Mira W ini awalnya hanya menyalurkan hobinya menulis dengan referensi kesehariannya di pondok.  Guru yang sudah mendapat gelar Magister Sains ini ingin menyampaikan bahwa kehidupan santri tidak selamanya datar seperti yang kita lihat selama ini. Ada berbagai latar belakang yang menjadi cerita kenapa murid-murid tersebut dimasukkan ke pondok. Bagaimana kehidupan sehari-hari anak pondok. 
Kini anak dari Sarim dan Rasmalem ini tengah menulis skenario untuk novel ketiganya. Kita tunggu saja karya selanjutnya dari Ira Madan, novelis muda Medan. Banyak sekali berkah dari menulis jika memang mampu dihayati. Bukan sekedar mencari popularitas, untuk berbagi pengalaman dan kisah pun sudah mumpuni untuk menjadi motivasi awal menulis. Asal sungguh-sungguh, insya Allah pasti bisa. 

Related Posts

karya 5948433431319384962

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts