KARYA PILIHAN: Grooming, Pelecehan Seksual di Era Smartphone

FLP Medan Reply 18.00

 

Ilustrasi

Pernahkah kita bertanya dalam hati bagaimana kehidupan anak-anak kita kelak di masa depan? Saat ini saja perkembangan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi telah tanpa sadar memaksa kehidupan anak-anak menjadi serba mudah dan serba bisa.

Kehadiran smartphone telah mempermudah kehidupan yang pada awalnya dilakukan secara manual menjadi lebih instan. Cukup online dan menggerak-gerikkan jemari maka segalanya dapat terwujud. Mulai dari belanja, belajar bahkan untuk mencari teman. Ya, mencari sahabat dan teman di era saat ini dapat dilakukan melalui media sosial yang bertabur banyaknya.

Media sosial mulai dari YouTube, Facebook, Instagram, WhatsApp, Telegram, Pinterest dan beragam media sosial lainnya telah mengubah cara berteman anak-anak kita di era teknologi. Cukup mengklik tombol maka kita dapat mengirim dan menerima pertemanan dari siapapun, dimanapun, kapanpun tanpa mengenal lebih jauh karakter dan bahkan wajahnya. Padahal bisa saja apa yang ia tampilkan di media bukan wajah aslinya dan apa yang ia share juga bukan nyata berasal dari benaknya. Cara berteman serba instan inilah yang kerap dimanfaatkan agen-agen seksual untuk menjerat mangsanya.

Belakangan ini Indonesia darurat dengan kasus pelecehan seksual terhadap anak. Salah satunya disebut dengan grooming. Grooming merupakan tindakan eksploitasi seksual terhadap anak melalui media sosial. Pelaku grooming biasanya memanfaatkan jejaring sosial seperti Instagram, Facebook, dan aplikasi lainnya yang mempunyai fitur video call alias panggilan video untuk menjerat korban.

Mengutip laman Engineering and Technology (E&T), kasus childgrooming alias membangun hubungan emosional dengan seorang anak untuk tujuan pelecehan seksual meningkat tiga kali lipat di Instagram selama 18 bulan terakhir.

Hasil penelitian tersebut mencatat, Instagram sebagai platform yang paling banyak dipakai untuk menghubungi anak-anak (sebesar 32 persen), diikuti dengan Facebook (23 persen), dan Snapchat (14 persen).

Menurut Divisi Humas dan Polri, rata-rata korban grooming adalah anak perempuan dengan rentang usia 9-16 tahun. Menurut organisasi internasional yang bergerak dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak atau National Societyforthe Prevention of Crueltyto Children (NSPCC), grooming dapat dilakukan oleh siapapun. Tak peduli apa jenis kelaminnya, berapa usianya, maupun rasnya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Indonesia menjelaskan, kasus grooming telah ada sejak 2016 lalu. Namun, kasus ini baru dikenal oleh masyarakat belakangan ini. Hal itu disebabkan aksi grooming pada 2019 telah terjadi lebih dari 236 kali di beberapa wilayah Indonesia.

Saat melancarkan aksinya, groomer (pelaku grooming) akan menyamar menjadi orang lain dan membuat identitas palsu. Hal itu dilakukan untuk memikat anak-anak. Selanjutnya ia mulai menghubungi target melalui pesan langsung (directmessage). Jika target terpengaruh modus pelaku, ia bakal tertarik dan mulai menjalin hubungan asmara. Hubungan asmara yang dilancarkan groomer ini bukan atas dasar cinta melainkan hanya untuk pelampiasan nafsu belaka. 

Setelah hubungan asmara dengan target grooming berjalan, groomer akan mulai memintanya mengirimkan gambar bagian intimnya. Sebagai ganti, pelaku biasanya akan memberikan imbalan berupa uang maupun hadiah. Namun jika target menolak, groomer tak segan untuk mengintimidasi bahkan mengancam korbannya.

Semakin meningkatnya kasus grooming ini didukung oleh kondisi pola asuh orangtua yang serba bebas, terutama saat melepas buah hatinya menikmati smartphone. Dunia saat ini yang karib dengan smartphone telah menjebak pemahaman orangtua tentang bagaimana anak menggunakan ponsel canggih. Smartphone sering dianggap sebagai teman bermain saja bagi anak sehingga anak bebas mengklik berbagai macam tombol bahkan tanpa tau artinya.

Mengapa grooming kini menjadi amat marak? Kurangnya edukasi yang menyeluruh tentang etika dan aturan dalam penggunaan smartphone inilah yang menjadi salah satu alasan utama maraknya grooming . Padahal jika orangtua menyadari betapa berbahayanya grooming , sudah menjadi kewajiban bagi orangtua mengarahkan dan memandu anak-anaknya dalam menggunakan smartphone. Menggunakan smartphone tak hanya untuk bermain games, mencari sahabat dan berbagi segala sesuatu. Namun menggunakan smartphone juga harus dilakuk an secara bijaksana. Selalu utamakan etika dan akhlak saat berkomunikasi di dunia maya juga perlu ditekankan kepada anak. Menerima pertemanan dari seseorang harus berhati-hati. Sebaiknya berteman dengan seseorang yang dikenal baik akhlaknya. Hal ini dapat diketahui dengan menelusuri postingan-postingan orang tersebut. Jika ada seseorang yang dikenal maupun orang asing mengirimkan konten-konten porno yang melanggar privasi akhlak, sebaiknya langsung diblokir. Dan jangan lupa untuk selalu mengkomunikasikan apapun kepada orangtua.

Masalah akan muncul saat orangtua tidak dekat di hati anak-anaknya. Anak-anak yang kehilangan sosok pengayom dalam diri ayah bundanya dapat saja berbohong dan tidak menceritakan aktivitasnya di dunia maya. Padahal bisa jadi pada saat itu anak tengah menjadi korban grooming.

Jadi ayah dan bunda, dekaplah erat-erat ananda agar kelak tak menjadi korban pelecehan seksual berteknologi canggih di masa saat ini. Jalin komunikasi yang karib dan penuh empati kepada ananda. Jadikan mereka sahabat berbagi cita dan cinta. Mereka harus selalu kita rangkul dan ajak komunikasi, bukan kita biarkan berkelana bebas tanpa tau etika. Mereka adalah generasi alpha, bukan lagi generasi zaman dahulu kala. Mereka adalah generasi cerdas yang harus selalu diajak jalan beriringan, bukan lagi generasi manut yang harus selalu berada di belakang. Bekalilah mereka dengan akhlak agar siap menerima tuntutan zaman yang nantinya tak dapat lagi kita genggam.

 

Tentang Penulis

Eka Diyah A merupakan anggota FLP angkatan ke-IV. Ibu dari tiga putra ini kini beraktivitas sebagai LearningSupport Unit (LSU) SD Juara Medan. Alumni Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara ini banyak menuangkan tulisan di akun facebook Eka Diyah A.


Related Posts

non fiksi 7236371412835196139

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts