OPINI: Trauma Akibat Pelecehan Seksual Pada Anak? Orang Tua Masih Tabu dengan Pendidikan Seks?

FLP Medan Reply 18.00

 

Ilustrasi

Makna seksualitas masih sangat tabu dikalangan mayoritas masyarakat Indonesia. Banyak orang tua yang merasa tidak pantas membicarakan tentang seks pada anak. Mereka menyerahkan mengenai seks ini pada pihak sekolah. Padahal dalam hal ini butuh kerja sama antara pihak sekolah dan pihak orang tua mengenai sex education. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat pelecehan seksual pada anak.

Yang perlu orang tua ketahui berbicara tentang pendidikan seks tidak melulu tentang hubungan intim. Kata seks banyak disalah artikan, padahal secara harfiah seks berarti jenis kelamin. Memperkenalkan dan menjelaskan anggota tubuh adalah langkah awal  untuk pendidikan seks. Hal ini bisa dilakukan dari sejak anak masih bayi. Masuk pada usia balita, pendidikan seks juga bertambah. Mulai membahas mengenai organ vital dan cara menjaganya. Semakin bertambahnya usia, pendidikan seks juga semakin luas. Anak harus diajarkan mengenai norma-norma sosial dan agama. Untuk mengajarkan kepada anak, orang tua perlu ilmu dan memahami cara menyampaikannya. Orang tua perlu mengikuti pelatihan-pelatihan ataupun arahan yang diberikan oleh pihak sekolah ataupun instansi yang berkaitan dengan pendidikan seks. Orang tua bisa mencari refrensi juga melalui internet dan lainnya.

Minimnya pendidikan tentang seks inilah yang membuat meningkatnya pelecehan seksual pada anak. Selain berdampak banyak terjadi kehamilan diluar nikah atau masalah kesehatan fisik lainnya, hal yang paling urgensi adalah trauma pasca pelecehan seksual. Peran tenaga psikolog anak sangat berpengaruh terhadap pemulihan trauma setelah pelecehan itu terjadi.

Trauma akibat pelecehan seksual bisa terjadi pada anak perempuan maupun laki-laki. Hal ini berdampak pada hilangnya rasa percaya pada orang lain, rendah diri, memiliki rasa pengkhianatan dan benci terhadap orang yang lebih dewasa, memiliki dendam, cemas berlebihan dan bisa juga berdampak pada rasa ketagihan akan seks. Jika hal ini tidak ditangani secara serius maka akan berdampak buruk pada masyarakat luas dikemudian harinya. Di sini bukan hanya peran psikolog tapi juga orang tua serta pemerintah untuk menanganinya dengan memberikan perlindungan dan keamanan bagi anak korban pelecehan seksual

Trauma pada anak korban pelecehan seksual adalah jenis trauma yang sangat urgensi karena hal ini bukan hanya mempengaruhi korban seperti yang dijelaskan sebelumnya, tapi juga mempengaruhi orang tua dan masyarakat. Keluarga lebih memilih untuk menutupi kasus ini agar tidak tersebar luas ke masyarakat yang mungkin akan melakukan diskriminasi terhadap korban. Sebenarnya hal ini menyebabkan kelonggaran terhadap pelaku pelecehan seksual sehingga bertambahnya korban.

Pada beberapa kasus, trauma pada anak cenderung lebih cepat pulih. Setiap anak akan berbeda tergantung dari seberapa berat trauma yang ia miliki dan riwayat psikologis sebelumnya. Walaupun begitu, trauma pada anak harus dapat perhatian khusus karena hal ini dapat mengganggu tahap perkembangan yang memberikan efek buruk dikemudian hari.

Anak harus mengikuti terapi psikologis dan didukung oleh orang tua. Jangan membuat anak merasa salah dan tersudutkan. Dukungan sosial sangat penting bagi anak, tetap memiliki teman dan bermain sangat membantu proses pemulihan trauma pasca pelecehan seksual. Orang tua memiliki peran besar dalam proses pemulihan ini. Orang tua harus bisa menjadi teman bercerita yang baik untuk anak. Memberikan penjelasan dan motivasi pada anak itu sangat penting. Hal ini dapat membuat anak merasa disayangi, dan didukung sehingga melewati semuanya dengan baik. Orang tua juga harus cepat tanggap dengan reaksi trauma atau kemungkinan trauma yang belum hilang sepenuhnya untuk terus melanjutkan terapi dengan psikolog anak jika dibutuhkan.

Tidak ada orang tua yang mau anaknya menjadi korban pelecehan seksual. Lebih baik mencegah daripada mengobatikan? Bagaimana? Masih merasa tabu tentang pendidikan seks?

Tentang Penulis

Fadhilla Fajrah, S.Psi, merupakan sarjana psikologi yang sedang menempuh pendidikan magister profesi klinis dewasa di Universitas Sumatera Utara. Memiliki minat terhadap psikologis orang dewasa terutama orang tua dan parenting. Selain melaksanakan praktek kerja untuk memenuhi tugas kuliah, Penulis juga aktif di media sosial dan membicarakan mengenai psikologi secara umum. Penulis juga merupakan seorang podcaster dari Obrolan Psikologi yang bisa didengarkan melalui google podcast ataupun spotify.

Related Posts

opini 6143629225928979359

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts