Resensi: Why Men Want Sex & Women Need Love

FLP Medan Reply 20.26

 



Awalnya saya enggan membaca buku ini. Belum menikah, kok baca buku tentang seks? Seraammmm! Rupanya bukan saya saja yang menganggap topik seputar seks adalah pembahasan yang tabu. Ratu Victoria dari Inggris itu pun dulunya, di tahun 1837 hingga 1901, membatasi negara dan rakyatnya untuk masalah seksual. Jauh lebih ekstrem, beliau melarang iklan-iklan yang menampilkan pakaian dalam perempuan, mengganti istilah “chicken breast” dengan “chicken bosom”, menutupi kaki-kaki meja dan piano yang berlekuk indah, juga mengganti istilah “kaki” dengan “tungkai”. Karena apa? Untuk menghindarkan munculnya rangsangan seksual, tentu saja. Pada masa itu, masyarakat cenderung menganggap segala yang bersifat nudisme adalah rangsangan seksual.

Nah, hari ini, kita cenderung menganggap tabu permasalahan seksual, termasuk saya. Jangan tanya bagi yang belum menikah, yang sudah menikah saja terkadang tabu untuk membicarakan seks. Padahal, urusan seks ini ternyata memberikan pengaruh besar bagi kehidupan berumah tangga. Nggak tanggung-tanggung, ada banyak pasangan yang bercerai gara-gara urusan ranjang. Sesekali membaca buku tentang hubungan antarmanusia rasanya sah-sah saja, selama kita menggali ilmu dan sisi positif yang ada di dalamnya, apalagi bagi pasangan yang sudah menikah.

Jadi, yah, inilah buku itu. Why Men Want Sex & Women Need Love. Mengapa Lelaki Menginginkan Seks dan Wanita Membutuhkan Cinta karya Allan dan Barbara Pease. Pasangan suami istri ini sudah menulis 15 buku tentang masalah hubungan antarmanusia, memberi seminar ke tiga puluh negara setiap tahunnya, dan membantu banyak pasangan menyelamatkan biduk rumah tangga mereka. Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2010 dan telah mengalami cetak ulang berkali-kali. Versi terjemahan Bahasa Indonesia-nya sendiri sudah dicetak ulang sebanyak tiga kali.

Persis seperti judulnya, buku ini memang membahas tentang seks pada diri laki-laki dan perempuan secara blak-blakan dengan mengambil banyak penelitian sebagai bahan referensi. Sesuai dengan pengantar penulisnya, buku ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang memadai bagi laki-laki dan perempuan tentang seks dan cinta, serta karakter dasar masing-masing gender, sehingga mereka bisa mencari pasangan yang tepat bagi yang sedang mencari pasangan, serta mengambil sikap yang tepat dalam mengelola kehidupan berumah tangga bagi yang sudah menikah.

Yang menarik dari buku ini adalah penguasaan materi oleh kedua penulis layaknya orang yang berpengalaman menangani banyak pasien atau orang-orang yang berkonsultasi kepada mereka. Dari buku ini kita bisa menjawab berbagai pertanyaan dasar seputar hubungan laki-laki dan perempuan yang sering ditanyakan sebagian besar pasangan yang menikah. Mengapa laki-laki itu lebih menginginkan hubungan seksual ketimbang perempuan? Mengapa perempuan lebih memiliki kecenderungan mencari laki-laki yang mapan? Mengapa lelaki tidak bisa multitasking seperti perempuan? Mengapa perempuan enggan melakukan seks? Seperti apa perselingkuhan itu, penyebabnya dan sensasi apa yang dicari para pelakunya? Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sering terlintas di kepala kita yang berkaitan dengan hubungan manusia laki-laki dan perempuan.

Buku ini juga menyuguhkan tips bagaimana memilih pasangan, atau setidaknya mempelajari kriteria atau karakter seseorang sehingga nantinya bisa menyesuaikan dengan keinginan. Selain pemaparan teknis dan praktis, terdapat juga kuis yang bisa diisi oleh laki-laki dan perempuan, semacam survey diri. Ini menurut penulis dibutuhkan ketika ingin mencari pasangan.

Sayangnya, karena latar penulisan menggunakan referensi dari penelitian di Eropa dan Barat, maka apa-apa yang disampaikan di buku ini pada akhirnya mengikuti budaya setempat. Selain juga ada pembahasan tentang seks bebas, di buku ini juga terasa sekali sisi materialis dari pilihan-pilihan yang diberikan. Misalnya dalam hal pemilihan pasangan yang cenderung melihat unsur fisik, materi dan hal-hal yang bersifat duniawi. Ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan apa yang diatur di dalam Islam, di mana dalam mencari pasangan, parameter utama yang kita gunakan adalah agamanya, termasuk di dalamnya kepribadian. Memang, tidak kita pungkiri, hal-hal bersifat materi juga terkadang menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan bagi sebagian kita, tetapi itu tidaklah mutlak. Jadi, anggap sajalah ini semacam perbandingan.

Dengan membaca buku ini, menurut saya, pasangan-pasangan yang telah menikah bisa meminimalisir konflik, setidaknya dalam urusan perasaan dan ranjang. Buku ini termasuk buku pengembangan diri dan psikologi karena sudut pandang pembahasannya berdasarkan ilmu psikologi dan hubungan antar manusia. Sifat bukunya merupakan wawasan umum, yang hal-hal di dalamnya sangat bermanfaat sekali buat bekal hidup dalam rumah tangga, minimal untuk memahami sifat dasar lawan jenis. Jika telah mengetahui sedikit banyak cara kerja otak dan psikologis pasangan, bagi pasangan yang sudah menikah bisa melakukan manajemen diri terhadap hal-hal apa saja yang sesuai, menghindarkan hal yang tidak sesuai, juga tidak membentur-benturkan permasalahan dengan pasangan sehingga mudah memicu konflik.

Secara keseluruhan, buku ini layak direkomendasikan bagi para pasangan yang sudah menikah sehingga satu sama lain saling memahami karakter pasangannya.

 

Judul: Why Men Want Sex and Women Need Love

Penulis: Allan & Barbara Pease

Penerjemah: Katisha

Perwajahan sampul: Mila Hidajat

Perwajahan isi: Nur Wula Dari

Cetakan ketiga: Maret 2018

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


Related Posts

non fiksi 850781169591190227

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts