CERPEN: Sariona

FLP Medan Reply 19.02

 


Cerpen : Mhd Ikhsan Ritonga

Hujan turun dengan tetesan yang begitu syahdu. Ia jatuh perlahan, namun tetap memberi kepastian. Rintiknya jatuh dan merebak kesegala arah. Begitulah suasana sore. Aku menikmati sore yang dingin. Hembusan bayu yang mengusik jiwa. Buluari terkadang merinding seperti jin lagi lewat dari belakang. Di halte bus aku masih saja memperhatikan jalanan yang mulai sepi. Kesepiannya seperti kenangan yang ditinggalkan tanpa harapan.

Jalanan ini indah, hujan itu membuat aku berimajinasi tentang rasa. Sering aku mengaitkan kata dengan hujan. Karena bagiku mereka adalah sepasang kekasih yang sudah ditakdirkan Tuhan. Lain halnya denganku yang kini ditinggalkan kenangan. Aku mengeluarkan selembar kertas dan sebatang pulpen dari dalam tas. Kucoba merangkai hujan menjadi puisi.

Hujan dan Puisi

Diantara kenangan mati

Aku menyepi diantara puisi

Hujan pun begitu

Ia merasakan sepi sebab puisinya akan pergi

Medan, 2020

Kumerangkai kata sedemikian rupa. Aku percaya takdir Tuhan tentang jodoh. Bagiku hujan adalah jodohnya dari puisi. Dari kejauhan aku melihat sosok pria gemuk berlari-lari kecil kearahku. Semakin lama tubuh itu mendekat. Dia menatapku dan melambaikan tangan. Itu adalah Darman. Dia langsung duduk disampingku. Dan membuka pembicaraan.

"Luhut, sedang apa kau di sini?"

"Hanya menghabiskan waktu saja.” Balasku kepadanya.

“Ah, yang benar saja kau. Tak mungkinlah seorang Luhut menghabiskan waktunya begitu saja.” Ucap Darman. Sesekali Matanya mencuri-curi pandang dari kertas yang ada ditanganku.

"Itu apa Lae?"

"Ini hanya kertas yang berisi puisi Lae," jawabku.

"Pandai juga rupanya kau menulis ya, bukan anak sastra tapi jago berpuisi. Salutlah aku sama kau Lae," ucapnya datar.

Kata-kata Darman itu menjadi sebuah kata yang sering bersarang dipikiranku. Tapi bagiku puisi bukan hanya untuk anak sastra, siapa pun bebas berpuisi. Hujan saat itu belum reda. Aku dan manusia buncit itu masih duduk dan memandang jalanan. Waktu akan terus berputar dan mencari tempat untuk kembali menyusun kenangan. Seperti halnya aku yang kini menjadi kenangan sebab kepergian yang tak diharapkan. Tiba-tiba Darman menanyakan perihal kenangan kepadaku.

"Lae, gimana kau dengan si Soriana?"

Pertanyaan yang selalu tidak kuharapkan keluar dari lisannya.

"Lae  Dengarlah aku baik-baik. Soriana sudah tidak ada kabar, dia sekarang entah dimana. Kalau pun dia kembali aku tidak yakin kalau dia sendiri," ucapku mata berlinang

Sariona adalah seorang gadis yang kukenal di kota Medan ini. Dia adalah gadis yang lihai dan sangat ramah. Tapi semua berbalik arah. Ketika senja tak lagi indah untuk dinikmati. Ketika purnama pada puncaknya akan mati. Begitu halnya dengan kisah yang terbakar seperti jerami. Dia pergi bersama keluarganya. Tidak tahu itu akan kembali atau tidak sama sekali.

Aku yang kini menjadi kesepian diantara puisi-puisiku. Rasanya rindu sudah mengendap, namun pertanyaan Darman kembali membuatku mengusik cerita itu. Masih jelas di benakku, sehari sebelum pergi aku dan Sariona masih sempat berjumpa. Pertemuan yang amat singkat, pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Kata-kata yang dia lontarkan saat itu adalah "Luhut, nanti aku akan kembali" dalam hatiku kata-kata yang begitu ambigu. Terakhir dia memberi surat perpisahan.

Perlahan hujan mulai reda, kurasa dia tahu kalau kami sudah bosan dalam penantian ini. Penantian yang tak kunjung pasti. Aku melihat wajah Darman sudah terkantuk-kantuk. Matanya merah. Seperti kebiasaannya kalau sudah seperti itu, pertanda ranjang telah memanggilnya.

"Darman, ayok kita pulang!" Dengan sigap dia naik ke sepeda motor terlebih dulu. Hujan mulai meninggalkan kenangan yang sudah ia sucikan.

Kesepian adalah jalan kita untuk menjadi puisi. Demikian halnya dengan segala cerita yang telah dilewati. Malam mulai menyambut pilu. Saat itu juga aku berada dalam sebuah kenangan yang merasuk ke dalam asa. Entah kenapa aku kembali memikirkan Butet, entah dia kembali lagi ke kota ini atau tidak. Atau malah sebaliknya aku yang harus meninggalkan kota ini untuk melupakannya.

Rembulan tak seperti biasanya. Cahayanya yang mereka sebut indah namun bagiku biasa saja. Kegusaran terus menjelma dalam setiap puisi yang aku tuliskan. Malam itu terasa sangat panjang. Sampai-sampai puisi pun kurapalkan kepada kematian. Kematian yang menjadikankan aku dan dia menjadi harapan.

            Matahari pagi mulai merambah dan burung murai berkicauan di atas pepohonan. Pertanda pagi akan menyapa. Aku beraktivitas seperti biasa. Berangkat kerja melewati jalan pahlawan lagi. Jalan yang sudah sering aku katakan sebagai jalan saksi bisu hidupku. Di jalan ini juga aku dan Sariona terakhir kali bertemu.  Di tempat kerja aku menjadi sunyi. Di sana kuhabiskan waktu untuk beberapa puisi. Setiap puisi memiliki pembacanya masing-masing. Harapku pembaca itu adalah dia. Menjadi diksi diantara puisi-puisiku. Di tempat kerja aku memiliki seorang perempuan berumur yang sangat baik, namanya Bu Ayu. Saat itu Bu Ayu memperhatikan tingkahku di ruang kerja. Dia mendekat dan menyapaku.

“Kenapa kau Luhut. Tak biasanya seorang editor kulihat galau seperti ini?”

“Tak apa Bu Ayu. Aku hanya pening saja.”

Bu Ayu tidak yakin dengan jawabanku. Ia memaksaku untuk tetap bercerita saat itu. Kutarik napas dalam-dalam. Sedalam aku mematikan kenangan.

“Kamu kenapa Luhut?” Tanya Bu Ayu kembali.

“Bu, aku sedang dilanda  kerinduan. Bukankah rindu itu adalah keharusan. Sementara kita menjadi fana.” Bu Ayu menatapku dengan tawa kecil di bibirnya yang berkerut.

“Ah, ini masalah biasa. Semua pasti mengalaminya Luhut. Sekarang begini saja, kau rapalkan namanya dengan puisi-puisimu itu. Kemudian terbangkan ia melalui doa. Ikhtiarkan ia melalui karya. Entah orang yang kau sebut itu masih ada atau tiada biarlah waktu yang menjawabnya. Sekarang pergilah ke Lapangan Merdeka mana tahu disana kau dapat jawaban, ucapnya.

Aku yang terlalu membiasakan diri larut dalam kerinduan ini. Setelah pulang kerja aku memutuskan untuk pergi ke lapangan merdeka. Tempat di mana orang-orang bisa merdeka dari kerinduan pikirku. Lapangan merdeka tidak jauh dari Harian Waspada. Setelah perbincangan dengan Bu Ayu, aku langsung menuju tempat itu. Tidak lupa aku menghubungi Darman untuk datang.

Matahari sudah memerah di antara gedung-gedung di sekitar lapangan merdeka. Aku menikmati sore-sore yang menjadi kesepian dan akan menghapuskan kerinduan. Aku mengeluarkan selembar kertas dan mulai menuliskan puisi untuknya.

Pada teriakan sunyi aku menjadi kata dalam perjalanan kita mengenang luka

Puisi ini adalah caraku menghapuskan kerinduan yang akan kuhaturkan dalam doa

Teruntuk kematian ataupun kehilangan jika dia mendekapmu

Maka keikhlasan adalah jalan untuk sebuah pertemuan

Begitulah puisi aku tuliskan. Aku menatap ke arah gerbang masuk, dari kejauhan Darman berlari ke arahku. Dia berlari seperti sedang kerasukan. Ditangannya aku lihat selembar kertas. Darman mendekat kearahku tanpa sepatah kata. Dia hanya menyodorkan kertas ini, di ujung kertas itu aku melihat nama Sariona bersanding dengan lelaki lain. Tak ada yang disesali, sebab janjinya ia tepati untuk kembali. Walau dengan selembar undangan yang menyayat hati.

Penulis bergiat di Forum Lingkar Pena Medan.


Related Posts

Fiksi 8755520068251134239

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts