KARYA PILIHAN: Oppui Oleh Ana Nasir

FLP Medan Reply 18.00

 

Ilustrasi

Daulay memasuki rumah dengan keringat dingin mengucur di tubuhnya. Sebenarnya sangat wajar jika ia berpeluh keringat, sebab ia baru kembali dari ladangnya. Namun menjadi tidak wajar karena keringat itu justru mengucur sebab sosok raja hutan yang melintas di ladangnya sebelum ia beranjak pulang.

            “Tarcopat hulala abang mulak1,” sapa Nurma, istri Daulay, saat melihat suaminya itu sudah terduduk letih di kursi makan.

            “Buat jolo di au tes, manguas kulala2,” pintanya pada sang istri, Nurma pun segera mengambilkan segelas air putih untuk suaminya itu.

            Begitu air putih yang ia pinta disodorkan oleh Nurma, Daulay langsung menenggaknya dalam satu tegukan saja. Sembari meletakkan gelas di atas meja, tampak ia menarik nafas panjang. Tingkah aneh suaminya itu tentu saja menimbulkan tanya di benak sang istri, tapi ia belum berani bertanya.

            “Ada kejadian ganjil apa di kampung kita ini kau dengar, Nurma?” tanya Daulay pada istrinya setelah ia mampu mengatur nafasnya kembali normal.

            “Apa pulaklah bang, sama kayak yang diberitakan di TV. Harga cabe naik, bawang naik,” jawab Nurma sekenanya.

            “Alaklee baya ... bukan itu. Kejadian ganjil yang membuat Oppui menunjukkan diri pada manusia,” keluh Daulay.

            “Apa bang? pasuo abang dot oppui di kobun3?” tanya Nurma meyakinkan suaminya.

            Tapi Daulay hanya mengangguk lemah, bayangannya kembali menerawang pada kejadian sebelum plang ke rumah tadi. Sedang Nurma tampak memikirkan jawaban dari pertanyaan suamiya tadi.

***

            “Umak4, kenapanya enggak boleh aku ikut ke kolam? Yang cantikan kata si Rahmad kolamnya itu loo, Mak. Banyak orang dari kota bedatangan ke situ, karena ada itu aek milas5nya, Umak. Malulah awak, orang sini enggak pernah mandi di situ,” Rasoki kembali melayangkan rayuan mautnya pada Nurma.

            “Udah Umak bilang tapi, kalo di kasih Ayah boleh. Tapi enggaknya berani kau Umak tengok bilang sama Ayah,” jawab Nurma menolak permintaan Rasoki.

            “Umak, percayanya Umak itu Ujing6Rina margandat7 sama Ayahnya si Khoir?” tanya Ipah tiba-tiba memecah kebisingan.

            Nurma terdiam sejenak, “Darimana pulak dapatmu cerita itu? Enggak boleh awak ikut-ikut cerita orang besar,” hardik Nurma kemudian pada Ipah.

            “Itu aja mak cerita kawanku di sekolah. Sampek enggak mau lagi si Rani ke sekolah gara-gara diincaki8 orang di sekolah,” jelas Ipah.

            “Kok tau pulak anak-anak sekolah cerita kek gitu? Pernah nampak orang itu rupanya?” Nurma tampak mulai penasaran.

            “Kan Ayahnya si Khoir yang punya kolam itu, baru Ujing Rina kerja di situ jaga karcis. Itulah, sering nampak orang di bonceng Ayah si Khoir Ujing Rina,” tambah Ipah.

            “Cuma gara-gara itu aja? Kenapa rupanya kalo dibonceng Ayah si Khoir, kan memang searah rumah orang itu,” sahut Nurma pada cerita putri sulungnya itu.

            “Enggaknya Umak, pernah dibilang si Rina samaku, masuk juga Ayah si Khoir ke kamar rumah orang itu sama Umak,” tambah Rasoki.

            “Hussshhh... “ Nurma tampak membentak Rasoki.

            “Si Rinanya langsung bilangnya samaku Umak,” Rasoki tampak menunduk, menyesali ucapannya.

            Ruang makan tempat ibu anak berbincang itu seketika sepi. Semua tampak sibuk dengan fikirannya masing-masing. Sementara Nurma teringat pertanyaan suaminya kemarin.

***

Tiga minggu kemudian ...

            Desa Hasundutan tempat keluarga Daulay tinggal dikejutkan dengan meninggalnya seorang tetangga di tepi hutan. Kejadian itu terasa begitu ganjil, sebab tetangga yang meninggal itu sudah tua dan sejak lama tidak bepergian ke kebun apalagi sampai ke hutan. Pun dari jasadnya ditemukan beberapa bekas cakaran, dan kaki sebelah kanannya putus dan tak ditemukan sambungannya.

            Orang-orang kampung mulai berbisik-bisik bahwa kejadian ganjil itu pastilah ulah Oppui. Semakin lama bisik-bisik itu semakin rame, dengan bertambahnya pengakuan dari beberapa tetangga yang rata-rata berprofesi sebagai petani mengatakan akhir-akhir ini sering melihat jejak Oppui di kebun mereka. Daulay hanya mendengar bisik-bisik itu, sedikitpun tidak ingin ia menambah keramaian di rumah duka dengan pengakuan bahwa ia pernah berjumpa langsung dengan sosok yang sedang dibicarakan.

            “Ma huboto ma bang jawaban pertanyaan ni abang sakali i9,” kata Nurma saat perjalanan pulang dari melayat.

            “Pertanyaan na dia?10

            “Kejadian ganjil di kampung kita,” jawab Nurma antusias.

            “Udahlah itu, enggak usah diperpanjang,” Daulay tampak tak tertarik.

            “Pengakuan dari anaknya langsung, bang. Udah tau juga abang berarti?” Nurma tidak puas dengan tanggapan suaminya.

            “Si laki-laki alak maradong11 di kampung ini. Dua-duanya udah sama-sama menikah pulaknya. Apalagi si perempuan itu, parumaen nihalifah12 itu,” sahut Daulay.

            “Tapi baru abang yang pertama kali melihat langsung Oppui kan? ceita-cerita orang tadi soalnya Cuma nampak jejaknya aja. Harusnya abang bilang kalau abang udah jumpa sama Oppui,” Nurma semakin geram.

            “Biar apa? Orang lagi berduka, lain-lain pulak cerita begitu,”jawan Daulay memberi alasan.

            “Bang, pandokkon ni tobang-tobang najolo, anggo kaluar Oppui, apalagi sampe diida halak partanda naso pade de i13. Abang kan tau?” Nurma semakin kesal diboncengan Daulay. Tapi Daulay memilih diam.

            “Pokoknya, kalau enggak cerita abang sama hatobangon ni hutaon14, jangan dulu pigi abang ke kebun,” kata Nurma kemudian, ancaman dengan iringan sedih.

***

Tiga minggu kemudian...

“Ganjil kali memang, enggaknya pernah tau aku pigiudak15ini ke kebun. Entah kenapa tadi pagi pigilah dia. Rupanya takdirnya memang,” Hasibuan tampak membuka percakapan di antara para pelayat.

Gora do on di hita sudenya di hutaon16. Udah taunya orang sekampung, entah sekecamatan, tapi enggak ada yang bertindak,”

”Udah enggak cocok lagi rasa Oppui berarti, langsung halifah nya dimakannya,” Guntar tampak menelan ludah.

Tak jauh dari tempat itu, tampak gadis kecil menangisi si mayyit.

“Udah kubilangnya sama Oppung17 tadi pagi jangan pigi, ada harimau disitu. Tapi tetap pigi Oppung pulak,” racaunya di sela-sela tangisnya.

Di samping gadis berusia delapan tahun itu tampak ibunya memeluk, bercucuram air mata tapi suaranya tak terdengar. Sementara tangan kirinya mengelus perutnya yang sudah tampak mulai membesar.

Dari sudut lain, Ayah si gadis kecil itu duduk disamping Daulay. Raut wajahnya menyimpan amarah dibanding duka atas kematian Ayahnya.

“Aku tau abang yang pertama kali melihat Oppui. Kemudian menyusul orang-orang melihat jejak kakinya, sampai Tulang18 Syamsudin meninggal dimakannya di tepi hutan. Orang-orang mulai rame membicarakan keganjilan di keluarga kami, Ayahku menutup telinga karena aku selalu saja membela istriku. Sekarang abang lihat, istriku sedang mengandung, tapi aku sudah lama divonis sakit, dan dapat kupastikan bayi dikandungannya bukan anakku,” sebuah pengakuan yang membuat Daulay begitu ngeri. Tak terasa keringat dingin tiba-tiba membasahi seluruh tubuhnya. Rasa cemas menghantuinya, bahkan lebih mengerikan dibanding dia melihat langsung sosok raja hutan, si kucing raksasa itu.

***

Note:

1.      Rasanya abang pulang lebih cepat

2.      Ambil dulu air putih, haus kali rasanya

3.      Ketemu oppui abang di kebun?

4.      Panggilan untuk Ibu: mama

5.      Air panas

6.      Tante

7.      Berpacaran, menjalin hubungan cinta kasih di luar pernikahan

8.      diejek, dibully

9.      Udah tau aku bang jawaban pertanyaan abang kemaren

10.  Pertanyaan yang mana?

11.  Orang kaya

12.  Menantunya Khalifah. Khalifah, orang yang dihormati karena ketinggian ilmu agamanya

13.  Kata orang-orang tua dulu, kalau si Oppoi keluar, apalagi sampai menunjukkan diri pada manusia, itu pertanda buruk

14.  Orang yang dituakan di kampung ini: pemuka adat

15.  Paman: sapaan untuk laki-laki dari Ayah

16.  Peringatan ini untuk kita semua di kampung ini

17.  Kakek

18.  Paman: sapaan untuk saudara laki-laki ibu

 

Cerita ini terinsprirasi dari sebuah mitos, pun kepercayaan masyarakat terkhusus di wilayah kabupaten Padang Lawas, pun keseluruhan wilayah Pulau Sumatera, tentang penampakan wujud harimau di hadapan manusia sebagai pertanda ada sesuatu yang tidak beres dari tatanan norma kehidupan manusia. Di Padang Lawas, harimau tidak boleh disebut terlebih di hutan. Jika ingin menceritakan tetang si raja hutan ini harus menyebutnya dengan sebuatan “Oppui”.

 

Tentang Penulis:

AnaNasiradalahnamapenadariNurhasanah.LahirseharisebelumperingatanproklamasiRIke-46,makasangatterlambatmenyadaribakatnyamengolahkata.Baginya,Menulistakhanyatentangmeluahkanyangmenyesakkanpikirandandada.Tapimemungkinkankeinginanberadadalambanyaktempatdalamsatuwaktu.Jangansungkanmenyapanyadi@ananasir4,ketikkansalammemaluiDM,tapijanganlupauntukterlebihdahulufollow.Jangantakut,diaramahtapipalingsusahjikadisuruhmenabung.

 

Related Posts

Fiksi 3321232072536489328

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts