PUISI: Kumpulan Puisi Nurhakiki Sonia

FLP Medan Reply 18.59

 


Banjarkere

Siulan merdu burung di Banjarkere, berapa besar biaya untuk menebus keharmonisan ini.

Aku rela menggigil di Bumi belahan ini, asal berkumpul dalam gubuk kecil itu.

Bersama menyaksikan bingarnya bola emas menggantung di atas seng rumahku, tengah hari.

Lalu akupun berkata, “Ibu, gerah nian siang ini”. Aku terlanjur candu kehangatan, walau berkali membujuk diri untuk tak merindu.

Aku tak bisa.

Ibu, kesibukanku di kota tak pernah mampu menjadi bius untuk menenangkan candu kerinduan itu.

Hatiku tak pernah bosan mengartikan suguhan senyum ibu dan tawa renyah ayah, kala pagi menyambutku di desa.

Pun angin senja terlalu jahat memainkan ujung jilbabku di kebun ubi, ikut meningkahi suasana kala semburat senja sempurna tumpah.

Di sana, di kota aku tak pernah menemukan siulan burung seperti di Banjarkere.

Tapanuli, Juli 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

Pernahkah Kau Merindukanku ?

Kini malam telah mengulang kisahnya.

Aku kembali terpenjara dalam kisah tentangmu.

Mengungkit kembali kenangan yang tak ujung usang.

Sakit, terjerembab dalam ingatan masa silam.

Salahkah jika aku amat merindukanmu ?

 

Mengapa rindu begitu menyesakkan ?

Begitu menyiksa bagi siapa yang hanya bisa meratapinya.

Rindu itu masih membelengguku, kenangan memenuhi setiap mili otakku. Dan tentu tega merenggut senyumku.

Kau katakan bahwa aku harus melupakanmu, itu tidak mungkin.

Sebab, bagaimana mungkin kau katakan manusia lupa untuk bernafas.

Tapanuli, 26 Juni 2019

 

Balada Sang Garuda

Izinkan kuberitahu sajak untaian sunyi padamu.

Bertuliskan titah cinta pada Sang Garuda nan gagah perkasa

Ia terbang mengangkasa dengan sayapnya, tampak perkasa dengan paruh kokohnya.

Namun sayang, ia telah menjelma dalam keheningan yang mendalam.

Ia terombang – ambing oleh angin riuh yang mengacaukan.

Terhempas pada tanah, terseret di bebatuan tajam nan ranjau.

 

Kegagalan menjadi memori, pertempuran hanyalah imperium yang menjemput perihnya luka.

Garuda menjadi kenangan yang menohok sukma, mengusung sejarah cinta yang menggurita.

Garuda tetaplah menjadi cerita penyimpan sejuta makna, tentang pertempuran menuju sangkar peraduan.

Kesetiaannya kan abadi, walau langit runtuh mendekap jiwa nan pilu.

Ath-thahirah, oktober 2019

 

Kepada Insan Berhati Mulia

Apa yang harus kukisahkan tentangmu.

Nasehatmu kini terbidik di jiwaku yang rapuh dahulu

Dan degub jantung terdengar berpacu bersama ambisi yang menggebu

Kau sebagai wujud dari penolong untuk orang – orang yang haus akan ilmu.

Apa yang harus kukisahkan tentangmu.

Kau yang berbaik hati  menuntunku menjemput mimpi, mengenalkanku pada cita dan perubahan, jejakmu begitu kentara di penjuru negeri, namamu merekah bersama cinta dan akhlak yang menjadi cahaya.

Aku tidak pernah mengira, tentang mimpi yang pernah kau sampaikan dahulu, menjadi awal dari perjalananku yang panjang.

Apa yang harus kukisahkan padamu wahai pemilik hati mulia.

Aku menyaksikanmu bersikukuh dengan kerasnya perjuangan di negeriku, berlomba dengan waktu menemui orang – orang di desa terpencil

Harap – harap gelapnya malam menghapus lelahmu, kau tak kunjung tidur memikirkan nasib anak didikmu.

Gedung – gedung berdiri gagah dengan hamparan luas lapangan, siapa yang tak ingin menyalakan cahayanya disana ?

Namun, kau memilih akrab dengan bangunan tua nan reot di desa – desa, membiyarkan tungkaimu lunglai setelah menyusuri jalan berbatu penuh liku.

Saat hujan deras sedang turun tiada hentinya, bangunan tua yang disebut sekolah akan basah, pelan – pelan ikut membasahi meja, kursi, dan papan tulis usang

Lalu terpaksa kau dan anak – anak kesayanganmu harus berkemas pergi, lalu pulang.

Begitulah, genangan air dalam ruang kelas ternyata tak mampu menyurutkan semangatmu.

Sekarang, dimanakah kau berada ?

Mungkin, kau masih setia dengan cinta yang kau sebut pengabdian itu.

Darahmu mengalir deras, bola matamu menelurkan air mata keharuan bersambut senyum di wajah teduhmu

Kau seraut wajah pejuang yang ditangguhkan doa – doa dan pengharapan, kau gambar mimpi – mimpi besar anak didikmu, doamu menjelma dalam sujud panjang.

Mataku tak lagi bisa menemukan sosokmu, maka biyarlah doaku memeluk jiwamu, sebelum temu akan dan tak pernah menjadi obat rindu

Aku membiyarkan pedih merengkuh jiwaku bilamana kenangan akan sosokmu mengungkung di kepalaku.

Aku selalu berharap senyummu akan lepas bersama mimpi anak didikmu yang tergapai satu persatu.

 

TENTANG PENULIS

Penulis kelahiran Simangumban, 31 juli 1999 ini bernama Nurhakiki Sonia. Tercatat sebagai mahasiswa S1 jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di UNIMED (Universitas Negeri Medan). Sekarang kost di Jl. M. Yakub, Medan Pancing. Penyuka warna hijau dan putih ini memulai hobi menulis sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan baru mulai mengirim karya – karyanya ke ranah perlombaan sejak di bangku Aliyah atau SLTA sederajat. Kritik dan saran dapat dikirimkan melalui akun facebook Nurhakiki Sonia atau ke alamat gmail nurhakikisonia31@gmail.com.

 


Related Posts

Fiksi 7173278979341514656

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts