RESENSI: Kitab Wabah dan Taun dalam Islam

FLP Medan Reply 08.02

 

Buku Kitab Wabah dan Taun dalam Islam

Judul: Kitab Wabah dan Taun dalam Islam

Judul asli: Badzl al-Ma'un fi Fadhl ath-Tha'un

Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani

Penerjemah: Fuad Syaifudin Nur

Penerbit: Turos

Tebal: 374 halaman

Tahun terbit: Agustus 2020

Cetakan: Pertama

Peresensi: Evyta Ar

 

Menemukan kitab ini di tengah-tengah riuh rendah suara-suara pandemi seperti merasakan sempurnanya perpaduan antara pisang goreng yang dimakan di sore hari bersama secangkir teh panas. Menyenangkan.

Baru saja pembungkusnya saya lepas. Aroma kimia kertas menyeruak setiap kali lembarannya dibuka satu demi satu, sekadar melintas sejenak pada aksara-aksara yang mengalir dari atas ke bawah, kiri ke kanan. Cantik.

Belumlah lagi isinya dibaca, namun pesona fisiknya kian menggugah. Saya memindai sampul yang dikuasai biru dan kuning, berhawa masa lalu yang membuat bulu kuduk merinding. Ya, Ibnu Hajar al-Asqalani menulis kitab ini 590 tahun yang lalu, saat kita masih entah di mana, belum pula dicipta.

Dimotivasi oleh harapan agar umat tercerahkan, Ibnu Hajar al-Asqalani kemudian menyusun berbagai hadits tentang wabah dan taun disertai penjelasan atasnya. Kematian putri-putri beliau karena taun yang melanda pada masa itu juga turut andil dalam lahirnya karya tersebut.

Buku ini disusun secara sistematis dalam lima bab utama. Bab pertama dibuka dengan penjelasan tentang doktrin-doktrin yang muncul di seputar pembahasan topik taun disertai sanggahan atau penguatan terhadapnya. Bab-bab berikutnya adalah penjelasan seputar defenisi, hukum dan arahan yang perlu dilakukan ketika terjadi taun.

Turos sebagai penerbit pertama yang menerjemahkan kitab ini ke dalam Bahasa Indonesia agaknya ingin mempertahankan kesan kitab klasik dari karya Ibnu Hajar ini. Ini terlihat jelas dari tampilan fisik buku dan ilustrasi yang digunakan. Berbeda halnya dengan penerbit lain, Keira, yang juga menerjemahkan kitab yang sama dengan judul Badzlul Ma'un.

Meski dari sisi naskah mereka sama-sama menerjemahkan manuskrip karya Ibnu Hajar, namun pendekatan tampilan fisiknya jelas berbeda. Keira menggunakan desain sampul yang lebih modern sehingga kesan ringan akan terlihat jelas bagi calon pembaca, sedangkan Turos terkesan agak sedikit serius dan berat. Bukan sebuah masalah berarti karena setiap buku ada pasar pembacanya masing-masing.

 

Kitab Wabah dan Taun dalam Islam sebetulnya sangat bagus dan cukup lengkap karena disertai juga tambahan pertanyaan dan jawaban yang sering ditanyakan seputar pandemi Covid-19 untuk menyesuaikan kondisi saat ini. Namun, menurut saya, jika pembacanya adalah pembaca umum dan pemula, atau bukan orang yang terbiasa membaca hadits-hadits panjang, maka kitab ini mungkin agak sedikit dirasa berat dari segi konten. Umumnya tipe pembaca seperti itu lebih suka membaca buku yang ringkas dan lebih sederhana sehingga mudah dipahami. Tetapi, bagi yang sudah terbiasa membaca buku-buku berkonten banyak, buku ini cocok saja.

Terlepas dari itu, kitab karya Ibnu Hajar ini adalah kitab sejarah dan penjelasan seputar wabah yang cukup layak dijadikan referensi.

Pertanyaannya, dengan ketebalan 300 halaman lebih, berapa lama Anda bisa menyesap si tebal manis ini? Sehari? Dua hari? Setahun? Ah, janganlah pula sampai setahun. Mungkin tak akan lagi ada kita di dunia ini untuk menceritakan kisahnya dari mulut ke mulut.

 

 


Related Posts

non fiksi 3867940016906062286

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts