PROFIL MINGGU INI: Membangun Desa Lewat Literasi

FLP Medan 1 15.40

 



Menulis itu menjadi kebiasaan  wajib baginya. Berawal dari keharusannya sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, kebiasaan itu kini menjadi sebuah hobi. Meski sudah menamatkan pendidikan S1 Sastra Indonesia di Universitas Medan, kini ia ingin tetap mengasah diri lewat tulisan.

                Ialah Muhammad Ikhsan Ritonga. Tulisan dari pria kelahiran 30 Juli ini sudah malang melintang di berbagai media. Mulai dari puisi, cerpen, resensi dan opini pernah terbit di media cetak dan online seperti Analisa, Waspada, Medan Bisnis, simbala.com dan apajake.com. Ia juga aktif di komunitas penulis, Forum Lingkar Pena Medan, dan telah menjuarai berbagai lomba. Diantaranya yaitu, terbaik 3 Penulisan Puisi ORMAWA FBS (2018)  , terbaik 3 Lomba Cipta Cerpen SSB Basastrasia Unimed (2019), terbaik 3 Lomba Cipta Cerpen Al-Ilmu USU (2019), presentasi terbaik LKMMN (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Nasional)  Polsri (2019), terbaik 1 Cipta Cerpen Rumput Sastra Hijau Binjai (2020). Ia juga memiliki beberapa buku solo dan antologi yaitu, Kumpulan Puisi “Sajak yang Bermula (Al-Qalam Media, 2017), kumpulan puisi Setapak Jalan (Guepedia, 2018), Antologi Cerpen Lantai Dua  (Balai Bahasa, 2019), Antologi Cerpen Merantau “Setiap Pergi, Sejarang Pulang ” (Prokreatif Media, 2019), Antologi Cerpen Perempuan di Tepi Danau (Gerhana Publising, 2019) dan Memoar Sobat Ambyar (Diomedia, 2019).

                Pria kelahiran Rocintan, Tapanuli Selatan ini sudah mulai menulis sejak duduk di bangku Aliyah. Tulisan perdananya yang terbit di media massa yaitu puisi Pahlawan Masa Kini di Harian Waspada. Selain pintar memainkan diksi dalam puisi, tulisan cerpen pria yang juga piawai memainkan gitar ini sangat khas sekali. Tulisannya  begitu kental dengan kearifan lokal daerah tertentu. Untuk bisa menghasilkan tulisan yang baik, pria penyuka mie aceh ini juga rajin membaca cerpen di berbagai media. Lalu bagaimana putra sulung dari Amru Ritonga dan Netti Batubara ini menggali ide untuk tulisannya? “Ide di dapat dari bahan bacaan, pengalaman kadang juga curhatan kawan-kawan, hehe.” Jelas pria  penggemar Kang Abik ini.

                Sebagai penulis, tentu memiliki momen terkesan saat meracik sebuah tulisan, sama halnya dengan pria ramah ini. “Momen berkesan itu, saat nulis dari kisah sendiri, dengan nama tokoh yang di fiksikan. Rasanya lega sekali, luas semua isi hati,” papar penyuka novel Bidadari Bermata Bening.

                Ikhsan yang kini aktif sebagai perangkat desa di Rocintan dan Pengurus Perpustakaan Al-Hidayah Rocintan, masih memiliki mimpi untuk bisa membangun desa lewat tulisan. “Tulisan yang saya buat bisa berguna untuk masyarakat, terlebih lagi mengajak teman-teman disini untuk menulis dan berliterasi,” papar pria yang senang memasak mie ini. Ia pun kini sedang membuat kelas puisi di perpustakaan Al-Hidayah.  Ikhsan yang memang dikenal sangat humble dan senang diajak sharing  tulisan, patut menjadi contoh untuk kalangan pemuda  kini. Ia menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat dan memililki mimpi untuk membangun desa lewat literasi. Semoga ada banyak pemuda produktif dan berdaya guna bagi masyarakat sekitar.

               


Related Posts

Tentang Kita 70291847451540322

1 comments

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts