PUISI: Kunpulan Puisi Nurhakiki Sonia

FLP Medan Reply 15.32

 


Suara – Suara Malam

Nurhakiki Sonia

Semilir angin duhai sendunya.

Ia berbisik bahwa ada yang sedang berduka di belahan bumi sana.

Siapa kan memberitahu dimana ayah dan ibundanya berada ?

Saudara – saudara yang membisu ditimbun tanah dan puing – puing amukan bencana.

Adakah disana yang bisa mengembalikan keluargaku ?, begitu hatinya bertanya.

Ia menangis tergugu bertiak dalam hati, bersama pekikan angin malam.

Segerombolan puisi yang pernah ditulisnya telah usang dimakan cerita – cerita malam.

Semalam hanyalah sekedip mata, kini menyaksi rumahnya runtuh dan hanyut bersama amukan air laut.

Kini ia sendiri bersama duka dan luka yang menganga.

Rumah Binaan, Oktober 2018

 

Sedang Sendiri

Nurhakiki Sonia

Kutemukan titik jenuh bersama nyanyianku yang sepi.

Tiada alunan merdu yang mendampingi, hanya sendu yang melumuri tiap – tiap lirik lagu.

Aku telah tumbang bersama masaku yang lalu, selarik kisah itu telah digilas oleh waktu.

Tak pernah kembali dan kian semakin jauh dari waktu yang telah lalu.

Aku kelam bersama waktu, ditinggalkan seonggok rindu yang kini membuatku bisu dan membatu.

Rumah Binaan, Oktober 2018

Kesyahduan Yang Membayang

Nurhakiki Sonia

Lembut mendayu bersama indahnya paras malam, dan malam tanpa gemintang atau cahaya rembulan.

Masih tetap indah bersama dedaunan yang terbang dihembus angin malam.

Kakiku dan kakimu masih berjalan, tiada memedulikan keletihan masih terjaga bersama keelokan sang malam.

Mungkin sekedar meringankan beban, membiyarkan semua kesibukan seakan melayang walau dalam kesyahduan yang membayang.

Rumah Binaan, Oktober 2018

 

 

 


Related Posts

Fiksi 5052911870447136907

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts