Karya Pilihan : Siapa yang Merdeka Oleh : Bagus D Kesumo

FLP Medan Reply 20.31

  (Sumber Gambar : Dokpri)

Dulu...saat kami masih kecil, masa ketika kami pergi ke masjid hanya untuk berbarter sendal, mengahalalkan mangga Wak Dul yang jatuh di jalan dan selalu berkumpul bersama di rumah guru setelah maghrib dengan harapan pengampunan atas sifat tercela kami yang saat ini belum dapat direnovasi sambil mendalami agama agar kelak kami tidak tumbuh menjadi manusia hina.

Waktu itu seorang guru kami pernah berkata bahwa kami semua terjajah, kecuali Palestina.  Kala itu kupikir salah mendengar, bukankah kalimatnya seharusnya berbunyi, kami semua merdeka kecuali Palestina.

Sebab yang kutahu di negeriku... kami diberi ruang yang cukup luas untuk beribadah. Sholat lima waktu, puasa ramadan, mengadakan acara dzikir di hari tertentu, terdapat izin pergi ke Saudi untuk berhaji. Kami dapat cukup makan dan minum dari hasil jeri payah sendiri setiap hari. Meski di lain sisi juga kami sadar ada para bedebah dari luar sana yang tanpa jeri payah dapat makan dan minum di negeri kami dengan sesuka hati.

Tapi seiring waktu dan bertambah usia, aku mulai mengerti maksud guruku. Meski negeri Palestina diblokade, dikurung sekat dinding rasial, dihujani roket rudal rumah dan nyawanya, dirampas tanah dan airnya, disiksa serta ditembaki membabi buta. Tapi kudengar setiap tahunnya mereka dapat melahirkan puluhan ribu hafidz. Orang-orang miskin yang tak satupun ditemukan dalam keadaan mengemis. Bahkan anak-anak paling kecil sudah memiliki isi kepala untuk hidup membela agama atau mati sebagai syuhada.

Sementara di negeriku, yang ekonominya meroket...meskipun itu masih wancana, hanya sebagian kecil yang mampu membaca tulisan asli kitab sucinya. Tingginya angka penganut pada data Kartu Tanda Penduduk tidak mampu mencegah diskriminasi terhadap beberapa ulama. Dan jika membicarakan solusi atas kemiskinan dan pengemis, sama perihalnya membicarakan 3 bersaudara yang dikutuk menjadi naga, meriam buntung dan putri hijau. Bahkan sampai sekarang pun para cendekia intelektual masih kebingungan dengan nilai kebangsaannya sendiri, sehingga kerap bertanya, "Pacaran ngapain aja?"





Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts