Opini : Kaum Terbuang_Oleh : Dewi Chairani

FLP Medan Reply 21.10

 

(Sumber Gambar : Istimewa)

Akhir-akhir ini perhatian dunia cukup ter-sentral pada konflik yang terjadi di salah satu tanah kelahiran Nabi yaitu Palestina.  Hal yang amat mengesalkan lagi, konflik ini pecah pada bulan suci Ramadan  tahun ini. Militer Israel dengan semena-mena membantai muslim yang sedang beribadah. Serangan pertama terjadi pada 7 Mei 2021 saat jamaah menyambut malam Lailatul Qadar di komplek Masjid Al-Aqsa. Esoknya pada 8 Mei 2021 militer juga menyerang jamaah saat sholat tarawih di Masjid Al-Aqsa. Sekitar 121 warga Palestina terluka pada malam itu karena peluru karet dan granat kejut. Setelah peristiwa ini, cukup viral foto jamaah yang sedang beritikaf di Masjid Al-Aqsa menyiapkan banyak batu di sisi mereka, sebagai antisipasi saat militer Israel menyerang kembali.

 

Setelah berbagai kejadian yang terjadi, tentu kelompok Hamas tidak tinggal diam. Perang pun pecah, tiada hari tanpa dentuman bom dan letusan senjata. Banyak korban berjatuhan termasuk di antaranya wanita dan anak-anak. Simpati muncul dari berbagai negara, tidak hanya yang beragama muslim bahkan juga non-muslim, hingga muncul slogan “tidak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina, cukup menjadi manusia”. Artinya memang tindakan tidak berprikemanusiaan ini, dikutuk oleh semua orang. Hal yang paling unik adalah di saat orang-orang belahan negara lain yang bahkan bukan muslim, tetapi  prihatin dengan kondisi Palestina, justru hal sebaliknya terjadi di Indonesia yang ‘katanya’ mayoritas Islam. Haruskah kita mencari kebenaran dari statement tersebut?

Bagi sebagian orang mungkin cukup jenuh melihat konflik Palestina-Israel yang tidak berujung. Namun daripada jenuh, ada baiknya mencari tahu apa yang terjadi di masa lalu, hingga kaum Zionis Israil ini tidak bosan-bosannya mengusik tanah Palestina.

Seperti yang kita kenal, Palestina adalah kiblat pertama ummat Islam, Nabi Muhammad sendiri pernah melakukan perjalanan religi dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang dikenal dengan peristiwa Isra Miraj. Belum lagi banyak sejarah yang ditoreh di negara ini. Tentu daerah Palestina menjadi sangat berharga bagi kaum muslim apalagi Al-Aqsa. Ada alasan tertentu kenapa kaum Yahudi sangat menginginkan kawasan Al-Aqsa menjadi daerah kekuasaan mereka.

Berkaca dari sejarah, ada beberapa hal yang menjadi alasan kaum Israel atau yang dulu lebih dikenal dengan nama Bani Israil amat membenci muslim, padahal berasal dari nenek moyang yang sama yaitu Nabi Ibrahim AS.  Alasan pertama Israel begitu membenci Islam adalah kecewanya mereka dengan lahirnya utusan (Nabi) terakhir yang berasal bukan dari kaum mereka yaitu Nabi Ishaq tetapi melalui keturunan Nabi Ismail yaitu Nabi Muhammad SAW.

Dalam buku The Testatement of Moses disebutkan, Musa memberikan satu kitab kepada pengikutnya bernama Yosua (Yusya) bin Nun sebelum ia wafat. Buku yang terkuak pada 1861 M di Kota Milan ini berisi akan muncul seorang nabi yang ditunggu-tunggu bersama kekuasaan yang diberikan Tuhan padanya setelah 250 minggu wafatnya Nabi Musa AS. Dalam kepercayaan Yahudi, satu minggu berarti tujuh tahun. Bila dikalikan tujuh tahun, masa itu berarti mencapai 1750-1757 tahun kemudian. Nabi Musa AS wafat pada 1183 SM. Bila dihitung dengan angka ketika memasuki masehi (awal kelahiran nabi Isa AS). Maka tahun kelahiran nabi akhir zaman di antara 567-574 M dan sangat tepat sekali pada kelahiran Nabi  Muhammad SAW pada 571 M. Jika mengulik kembali sejarah Nabi Muhammad, ketika kecil Nabi Muhammad sempat dikejar beberapa orang yang berasal dari Romawi, maka Nabi pun diamankan segera. Di dalam Taurat dan Injil juga disebutkan, nabi akhir zaman itu bernama Ahmad. Orang Nasrani menafsirkan kedatangan nabi terakhir adalah kemunculan Isa untuk kedua kalinya. Hal inilah yang membuat kaum Yahudi (Israel) kesal  pada umat Islam.

Alasan kedua yaitu adanya Solomon Temple atau Kuil Sulaiman tepat dibawah  Masjid Al-Aqsa. Ini adalah kepercayaan yang dipegang erat oleh Israel. Mereka berusaha keras untuk menguasai Masjid Al-Aqsa, karena mereka ingin menghancurkannya. Apa yang tersimpan di dalam kuil tersebut? Mereka percaya di dalam kuil tersebut terdapat Tabut (sebuah kotak yang berisi Kitab Taurat serta sejumlah barang milik Nabi Musa AS, Harun   AS, dan Sulaiman AS) yang memberikan ketenangan. Siapa pun yang dapat menemukan Tabut, maka akan menguasai dunia. Faktanya, sejak tahun 1967 sampai sekarang, Zionis Israel telah melakukan sepuluh kali penggalian di kota suci Al-Quds. Kuil ini merupakan lambang kekuatan sehingga berguna untuk menguasai dunia internasional.

Alasan ketiga yaitu klaim Teologis dan Deklarasi Balfour. Klaim Teologis berasal dari pendiri negara Israel yang didasarkan pada isi Kitab Perjanjian Lama dalam Kitab Kejadian 12:7 dan Kitab Yosua. Ini semua dideklarasikan oleh pendiri Zionist yaitu Theodore Herzl yang menggambarkan wilayah Israel membentang dari Sungai Nil sampai sungai Eufrat. Bisa terlihat dari garis biru yang terdapat di atas dan di bawah bintang berwarna biru pada bendera Israel. Garis biru atas melambangkan sungai Nil dan garis biru dibawah menggambarkan Sungai Eufrat. Sedangkan lambang bintang adalah Bintang David (Bintang Daud). Selama ini kita hanya terfokus pada lambang bintang David  karena terlihat besar dan cukup mencolok. Padahal makna dua garis diatas dan bawah bintang David lebih ‘menakutkan’. Mereka bercita-cita menguasai Afrika yang dilambangkan dengan Sungai Nil dan Asia  yang dilambangkan dengan Sungai Eufarat. Gagasan besar ini tentu disambut baik oleh kaum Yahudi yang aslinya adalah kaum terbuang yang tidak memiliki tanah.

Deklarasi Balfour adalah sebuah upaya yang dilancarkan, saat Yahudi tidak bisa mendapatkan hak tanah dari pemerintahan Turki Ustmani (Ottoman) yang kala itu dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Saat Sultan Abdul Hamid II memimpin, Palestina di bawah kekuasaan Ottoman. Dan permintaan Yahudi untuk menduduki meskipun hanya sepetak tanah Palestina ditolak keras oleh pemimpin bijak Turki ini. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menggulingkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. Namun selalu gagal, hingga akhirnya saat Sultan Abdul Hamid II digantikan oleh Mustafa Kemal  At-Taturk yang menganut paham freemansory. Sebelum Mustafa Kamal naik tahta, Yahudi juga berusaha mencari dukungan internasional yaitu Inggris, Amerika, Perancis dan Rusia. Mereka mendukung penuh gagasan Zionis untuk membangun tanah Yahudi di Palestina. Tentu di balik dukungan tersebut, terdapat kepentingan-kepentingan lainnya.

Hasil dari Deklarasi Balfour adalah dibaginya Palestina menjadi tiga zona. Pertama, wilayah Yahudi mencakup 57 persen dari  total wilayah Palestina dan ini meliputi hampir seluruh wilayah yang subur. Kedua, wilayah Palestina mencakup 42 persen dari total wilayah Palestina dan hampir seluruh wilayahnya tandus dan berbukit-bukit. Ketiga zona internasional (Yerussalem) dengan perimbangan penduduk 100 ribu Yahudi dan 105 ribu Palestina. Sekitar 26 tahun sebelum resolusi PBB dari Liga-Liga Bangsa telah memberi mandat kepada Inggris bahwa penduduk Palestina menguasai 98 persen wilayah tersebut sedangkan Yahudi hanya dua persen saja, tetapi lagi-lagi kesepakatan ini dilanggar. Kini jumlah penduduk Palestina dan Israel sama banyaknya, yakni sekitar 6,8 juta. Hanya saja Palestina menempati wilayah yang lebih kecil daripada Israel.

Israel notabenenya adalah negara yang mencari tanah untuk ditempati, karena mereka tidak diterima di mana pun. Pada tahun 1947 pengungsi Yahudi tiba di Palestina dengan memasang wajah memelas dan spanduk besar di kapal yang mereka tumpangi yang bertuliskan “Jerman menghancurkan keluarga dan rumah-rumah kami. Jangan hancurkan harapan kami”. Hanya berselang setahun saja, mereka berhasil menguasai dan menjajah Palestina. Sungguh miris.

Lalu bagaimana kehidupan sehari-hari saudara kita di sana? Di daerah tepi barat yang seharusnya adalah milik Palestina telah dikuasai oleh warga Israel. Mereka membangun rumah-rumah yang besar dan indah dengan pengamanan yang ketat. Warga Israel tidak perlu melewati border crossing, sebaliknya bagi warga Palestina. Ini salah satu cara agar warga Palestina frustasi. Seringkali hanya ada tiga militer Israel yang berjaga-jaga untuk mengecek warga Palestina, itu pun hanya satu yang bertugas, dua di antaranya bersantai-santai. Rute ini bukan hanya berjam-jam, tetapi bisa seharian dan belum tentu mereka dapat melintas. Suplai air yang sangat terbatas juga dirasakan oleh warga Palestina, terlihat dari tandon air yang menghitam karena Israel mematikan akses air. Banyak fakta miris lainnya yang dialami warga Palestina di sana.

 

Dengan alasan apalagi kita sebagai sesama muslim tidak peduli bahkan acuh. Mereka  bahkan rela mengorbankan jiwanya demi mempertahankan tanah Palestina dan Masjid Aqsa. Lalu kita?

 

Tentang penulis : 

Dewi Chairani, seorang ibu rumah tangga yang kini aktif menulis sebuah novel di Storial dan sedang mengembangkan usaha kuliner juga tanaman herbal. Suka baking, menanam dan tentu saja penulis. Ibu dari M. Iqbal Al-Fatih ini juga aktif di FLP Sumut.

 

Sumber : republika.com

               Kompas.com

               Wartakotalive.com

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts