SARAPAN UNTUK IBU Oleh : Bura Khai

FLP Medan Reply 20.06

 


(Sumber Gambar : lintas gayo.com)

Saat pertama kali saya memperkenalkan diri sebagai guru relawan untuk mereka, anak-anak ini terlihat gembira. Mereka menyambut perkenalan saya dengan senyum merekah dan mata yang berbinar. Beberapa dari mereka tak sabar ikut memperkenalkan diri pada saya, guru baru mereka. Termasuk anak yang punya kenangan spesial bersama saya di cerita ini.

Namanya Ahmad. Umurnya baru  mencapai 9 tahun. Sejak lahir, Ahmad dibesarkan di kamp pengungsian. Fisiknya tak jauh berbeda dengan teman-teman sebayanya. Badannya kurus, matanya sayu dan cekung. Rambut dan kulitnya kering, sekering tanah tandus tempat tinggalnya. Kesengsaraan terlihat jelas dari penampilannya namun tidak ada kesedihan di matanya karena ia tak tahu bagaimana rasanya hidup bebas. Penjajahan yang dilakukan Israel terhadap Palestina, tempat tinggalnya sudah dilakukan beberapa tahun sebelum ia dilahirkan. Ahmad tidak pernah tahu rasanya hidup normal.

Tempat tinggal yang ia anggap layak adalah bangunan tembok semi permanen sisa reruntuhan bangunan berukuran 4 x 4 meter. Tidak ada pintu ataupun jendela di “rumah”nya. Kain kumal dan terpal seadanya dijadikan sekat antar ruang untuk memisahkan rumahnya dengan rumah yang lainnya.  

Sepetak ruang tak layak huni tempat tinggal Ahmad itu tidak memiliki bantal ataupun kasur. Beberapa helai selimut kumal adalah alas sekaligus teman tidur paling menyenangkan yang dimilikinya.

Ahmad hanya tinggal berdua bersama Ibunya, ia telah menjadi yatim sejak kecil. Ayahnya meninggal karena ulah tentara zionis Israel pada peristiwa empat tahun lalu.

Malam itu, Ahmad kecil sedang berada di Masjid bersama ayahnya. Malam ramadhan yang syahdu, puluhan jama’ah berkumpul di Masjid menantikan adzan Isya dan bersiap-siap untuk melaksanakan tarawih berjama’ah. Ahmad masih ingat, saat itu ia berada di pangkuan ayahnya yang sedang bertilawah menyenandungkan ayat Allah dengan begitu khidmat. Tiba- tiba suara ledakan terdengar memekakkan telinga. Langit malam yang gelap menjadi berpendar diselimuti cahaya menyilaukan dari puluhan rudal yang dilancarkan tentara Israel. Salah satu rudal mendarat di atap Masjid dan meledak meluluh lantakkan Masjid menjadi puing-puing dan serpihan debu.

Sesaat setelah suara ledakan terdengar, Ahmad merasakan rangkulan ayahnya melemah. Bagian belakang tubuhnya serasa basah, Al- Qur’an yang dipegang oleh ayahnya berubah merah dan basah karena tetesan darah. Sekilas ia mendengar samar-samar suara ayahnya yang tersengal sambil berucap lemah, “La... Ila.. Ha Ilallah......”, ucapan terakhir yang ia dengar dari ayahnya. Setelahnya ahmad kecil tidak melihat dan mendengar ingat apa-apa lagi. Hal terakhir yang ia ingat adalah sayup-sayup suara takbir kemudian semuanya menjadi gelap.

***

Ahmad dan anak-anak kamp pengungsian lainnya tidak bersekolah. Sekolah mereka hancur sejak serangan bertubi-tubi Israel ke daerah Gaza. Sekolah-sekolah darurat didirikan untuk anak-anak pengungsi seperti Ahmad agar tetap mendapat pendidikan. Sekolah darurat ini hanya beratapkan tenda terpal seadanya. Tidak ada meja atau kursi seperti sekolah umum. Siswa duduk di atas tanah beralaskan spanduk dan kain seadanya. Pengajarnya adalah relawan-relawan yang datang dari negeri tetangga seperti Yordania, Mesir, dan saya sendiri dari Indonesia. Selain keterbatasan sarana dan pengajar, kegiatan di sekolah darurat juga sering terganggu dengan suara ledakan rudal dan senjata.

Meskipun penuh keterbatasan, semangat anak-anak untuk belajar tetap tinggi. Mereka tak pernah mengeluh pada keadaan. Harapan untuk memerdekakan hak atas tanah kelahiran yang tetap membakar semangat belajar anak-anak Palestina.  

Pagi ini saya sengaja datang lebih awal ke sekolah untuk membantu beberapa relawan membagikan sarapan gratis dari salah satu badan amal milik Indonesia. Saat saya tiba, Ahmad dan temannya sudah duduk rapi menanti makanan dibagikan.

“Ahmad dan anak-anak lain sudah berada disini sejak subuh tadi”, ucap salah satu relawan.

“Mereka benar-benar tidak sabar untuk sarapan rupanya”

“Ya, karena mereka hanya bisa sarapan saat relawan datang”

Sarapan adalah hal mewah untuk anak-anak di kamp ini. Karena blokade Israel, orang tua mereka sulit mendapat pekerjaan dan tidak sanggup memenuhi kebutuhan makan mereka.  

Mereka tidak kenal empat sehat lima sempurna, makanan yang biasa mereka makan adalah roti gandum tipis yang terdiri dari campuran tepung gandum, air , dan garam yang dipanaskan di atas wajan tanpa tambahan minyak atau lemak apa pun.

“Ahmad, kenapa tidak menghabiskan sarapanmu ?”  Saya bertanya kepadanya karena Nasi briani miliknya masih utuh dan tidak disentuh sama sekali.

“Kamu sudah sarapan?”

Ahmad menggeleng, dan menjawab, “Aku akan memakannya bersama Ibuku siang ini. Bolehkah aku membawanya pulang?”

“Ya, tentu saja. Pastikan kamu tidak pulang terlambat siang ini.”

Ahmad sangat senang. Siang itu, ia tidak ikut bermain bola bersama temannya sepulang sekolah karena ingin segera menghabiskan jatah sarapannya tadi pagi bersama ibunya. Ia berharap makanan yang ia bawa siang ini bisa menebus rasa bersalahnya pada Ibu karena telah menghabiskan sarapannya minggu lalu sendirian. Ahmad mempercepat langkahnya agar bisa segera tiba di rumah sambil membayangkan senyum yang merekah di wajah Ibunya.

* * *

Ahmad tiba di rumah. Ibu menyambut dan langsung memeluknya. Mata Ibu basah, tidak ada senyum merekah di wajahnya. Rumah tempat tinggalnya porak-poranda hancur lebur bersatu dengan tanah. Suara ledakan terdengar. Orang-orang mulai hilir mudik menyelamatkan diri. Para pemuda menggemakan suara takbir

“Allahu Akbar.... Allahu Akbar!”

“La... haula wala quwwata illa billah!”

Ibu berlari membawa Ahmad dalam dekapannya, dalam dekapan Ibunya Ahmad berbisik, “Aku membawakan nasi briani untukmu, Ibu. Nanti kita makan bersama, ya”.

Ibu tersenyum mengannguk, mencium kening Ahmad sambil terus berlari.

Terdengar satu ledakan besar lagi. Cahaya membuncah di langit. Untuk kedua kalinya, Ahmad melihat darah bercucuran, tangan dan kakinya basah. Dekapan Ibunya melemah, ia jatuh tersungkur ke tanah, dan mendengar Ibunya berucap lemah, “La... Ila.. Ha Ilallah......”

 

 

TENTANG PENULIS

Bura Khaira, seorang guru kelahiran Tebing Tinggi, 21 Maret 1993. Saat ini, penulis aktif mengajar di salah satu sekolah swasta di kota Medan. Ia selalu berusaha memberikan kontribusi terbaik dalam dunia pendidikan. Di luar jam kerja, Ia suka membaca dan menulis cerpen. Cerpen karyanya pernah diterbitkan oleh Jejak Publisher dalam antologi “Peribahasa Bercerita”. Penulis dengan senang hati menantikan kritik dan saran dari pembaca lewat akun instagram @ms._bura.

 

Posting Komentar

Search

Instagram

Popular Posts